Dari Leuit untuk Negeri: Seren Taun Cisitu 2026 Buktikan Ketahanan Pangan Berawal dari Kearifan Leluhur

 

LEBAK, MEDIAGANAS.ID – Di saat banyak daerah berbicara tentang krisis pangan, perubahan iklim, dan pentingnya menjaga lingkungan, masyarakat adat Kasepuhan Cisitu justru telah mempraktikkan jawabannya selama lebih dari tiga abad.

Bukan melalui seminar atau teknologi canggih, melainkan lewat Seren Taun, tradisi warisan leluhur yang mengajarkan bahwa menjaga alam adalah fondasi utama kehidupan.

Semangat itu kembali terasa dalam puncak perayaan Seren Taun 2026 yang berlangsung di Kasepuhan Adat Cisitu, Desa Situmulya dan Desa Kujangsari, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Minggu (12/7/2026).

Ribuan masyarakat adat, warga, hingga tamu undangan memadati kawasan adat untuk mengikuti rangkaian prosesi yang telah diwariskan sejak tahun 1685.

Selama sepekan, sejak 6 hingga 13 Juli 2026, Seren Taun menjadi ruang perjumpaan antara nilai-nilai leluhur dengan tantangan zaman.

Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Cisitu menunjukkan bahwa tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan pedoman yang tetap relevan untuk membangun masa depan.

Tahun ini, Seren Taun mengusung falsafah Sunda “Noong lalakon katukang, naratas jalan kahareup, pikeun mageuhan tradisi, nyumponan alam kiwari,” yang berarti melihat jejak masa lalu, merintis jalan ke depan, untuk menjaga tradisi agar tetap selaras dengan alam masa kini.

Falsafah tersebut menjadi roh seluruh rangkaian acara. Seren Taun tidak hanya dimaknai sebagai pesta panen, tetapi juga ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus pengingat pentingnya menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam dan sesama.

Ngarak Hasil Bumi, Simbol Syukur dan Kesucian

Sejak pagi, suasana sakral menyelimuti lingkungan Kasepuhan. Prosesi Ngarak Hasil Bumi dimulai dari Imah Gede Kasepuhan.

Kaum laki-laki masyarakat adat memikul bakul berisi padi hasil panen yang ditutup kain putih sebagai simbol kesucian, amanah, dan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Iring-iringan berlangsung khidmat diiringi alunan Angklung Buhun serta dentuman Rengkong yang menghidupkan nuansa tradisi.

Prosesi semakin bermakna dengan hadirnya tokoh Dewi Sri, simbol kesuburan dan kemakmuran dalam tradisi agraris Sunda. Dengan penuh khidmat, Dewi Sri menyerahkan benih padi yang dibungkus kain putih kepada Abah H. Yoyo Yohenda atau Abah Uta.

Penyerahan tersebut menjadi lambang harapan agar tanah tetap subur, hasil panen melimpah, dan masyarakat senantiasa memperoleh keberkahan.

Di tengah perjalanan, rombongan juga disambut Wakil Bupati Lebak, Amir Hamzah, sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap pelestarian budaya dan keberlangsungan masyarakat adat.

Setibanya di pendopo, seluruh hasil bumi diserahkan kepada Abah Uta sebagai amanah adat untuk dijaga bersama demi keberlanjutan kehidupan masyarakat.

Sawer Buhun, Doa untuk Alam dan Kehidupan

Rangkaian berlanjut dengan Ritual Sawer Buhun, salah satu prosesi paling sakral dalam Seren Taun.

Dipimpin pemangku adat, doa-doa dipanjatkan dengan penuh kekhusyukan di tengah kepulan asap kemenyan yang memenuhi area ritual.

Suasana hening mengiringi lantunan petuah leluhur yang mengingatkan manusia agar senantiasa hidup selaras dengan alam.

Ucapan “Tanhankamuni tanhana make” kembali menggema, menjadi pesan moral agar manusia tidak serakah, selalu bersyukur, serta memanfaatkan hasil bumi secara bijaksana demi keberlangsungan generasi mendatang.

Dalam kesempatan tersebut, Abah Uta menegaskan bahwa Seren Taun merupakan wujud nyata kecintaan masyarakat adat terhadap tanah, air, dan padi sebagai sumber kehidupan.

“Seren Taun ieu bukti yen urang masih mikanyaah ka taneuh, ka cai, jeung ka pare. Lamun adat jeung alam urang dijaga, insyaAllah ketahanan pangan urang oge bakal aman,” ujarnya.

Leuit, Simbol Ketahanan Pangan yang Tak Lekang Waktu

Prosesi puncak ditandai dengan Ngampihkeun Pare ka Leuit, yakni menyimpan padi ke dalam lumbung adat.

Bagi masyarakat Kasepuhan Cisitu, leuit bukan sekadar tempat penyimpanan hasil panen. Ia merupakan simbol kemandirian pangan, penghormatan terhadap hasil bumi, sekaligus warisan budaya yang harus dijaga dan diteruskan kepada generasi berikutnya.

Di tengah berbagai tantangan pangan global, filosofi leuit menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada produksi, tetapi juga pada kebijaksanaan dalam mengelola dan menjaga hasil panen.

Seni Budaya Menjadi Penutup Kebersamaan

Selain prosesi adat, Seren Taun 2026 juga diramaikan berbagai perlombaan dan pertunjukan seni budaya yang berlangsung sejak 6 Juli.

Puncak hiburan digelar pada Minggu malam (12/7/2026) dengan penampilan Tari Jaipongan, Wayang Golek, hingga konser grup musik reggae yang berhasil menarik ribuan pengunjung dari berbagai daerah.

Seluruh rangkaian kegiatan dijadwalkan berakhir secara resmi pada Senin (13/7/2026).

Seren Taun Cisitu tahun ini kembali menegaskan bahwa adat bukan sekadar tradisi yang dikenang, melainkan nilai hidup yang terus dijalankan.

Dari lumbung-lumbung padi yang tersimpan di leuit hingga doa-doa yang dipanjatkan dalam Sawer Buhun, masyarakat adat Cisitu mengajarkan satu pesan sederhana namun mendalam: menjaga adat berarti menjaga alam, dan menjaga alam adalah investasi terbaik untuk ketahanan pangan bangsa. (Iwan H)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *