Seren Taun Cisitu Satukan Ribuan Warga, Jawara Banten Bersatu Berdiri di Garda Pelestarian Tradisi

 

LEBAK, MEDIAGANAS.ID – Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Kasepuhan Adat Cisitu kembali membuktikan bahwa tradisi leluhur tetap hidup dan menjadi denyut kehidupan masyarakat.

Ribuan warga memadati Desa Situmulya, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten, untuk mengikuti rangkaian upacara adat Seren Taun 2026 yang berlangsung khidmat sekaligus meriah.

Di balik suksesnya perhelatan budaya tersebut, hadir sinergi berbagai elemen, termasuk Jawara Banten Bersatu (JBB), yang turut mengawal jalannya seluruh prosesi agar berlangsung aman, tertib, dan tetap menjaga nilai-nilai sakral adat.

Sebagai organisasi kemasyarakatan asli Banten, JBB tidak hanya hadir dalam fungsi pengamanan, tetapi juga menunjukkan komitmennya sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab moral menjaga kelestarian budaya daerah.

Bersama panitia penyelenggara, personel Polsek Cibeber, dan Koramil Cibeber, anggota JBB bersinergi mengamankan seluruh rangkaian kegiatan yang dihadiri ribuan masyarakat dari berbagai daerah.

Rangkaian Seren Taun dimulai pada Sabtu malam (11/7/2026) dengan hiburan rakyat di Lapangan Kasepuhan Cisitu.

Antusiasme masyarakat terlihat dari membludaknya penonton yang menikmati pertunjukan Tari Jaipongan, pagelaran Wayang Golek, hingga penampilan musik reggae yang menjadi penutup suasana malam budaya tersebut.

Sejak sore hari, personel JBB telah disiagakan di sejumlah titik strategis. Mereka membantu mengatur arus pengunjung, mengamankan area panggung, mengarahkan lalu lintas kendaraan, serta memastikan seluruh kegiatan berlangsung tertib hingga selesai.

“Adat harus tetap terjaga, masyarakat juga harus merasa aman dan nyaman menikmati seluruh rangkaian kegiatan. Itu menjadi komitmen kami,” ujar Abah Hani, Satgas JBB DPC Kecamatan Malingping.

Puncak Seren Taun berlangsung pada Minggu (12/7/2026) melalui prosesi sakral Ngarak Padi atau pawai hasil bumi.

Bakul-bakul berisi padi hasil panen yang dibungkus kain putih dipikul oleh masyarakat adat dari Imah Gede Kasepuhan menuju Pendopo Kasepuhan, diiringi tabuhan Rengkong dan alunan Angklung Buhun yang menambah kekhidmatan suasana.

Di sepanjang jalur prosesi, anggota JBB kembali berada di barisan terdepan.

Mereka membuka akses jalan, mengatur kerumunan masyarakat, serta memastikan jalannya iring-iringan tetap tertib tanpa mengurangi kesakralan upacara adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penyerahan simbolis benih padi oleh tokoh Dewi Sri kepada Abah H. Yoyo Yohenda atau Abah Uta.

Ritual tersebut menjadi lambang doa agar tanah tetap subur, hasil panen melimpah, serta masyarakat senantiasa memperoleh keberkahan dalam setiap musim tanam.

Rangkaian adat berlanjut dengan Ritual Sawer Buhun yang berlangsung khusyuk, kemudian diteruskan prosesi Ngampihkeun Pare ka Leuit, yakni memasukkan padi ke dalam leuit sebagai simbol rasa syukur atas hasil panen sekaligus harapan akan keberlimpahan rezeki pada musim berikutnya.

Selama prosesi berlangsung, anggota JBB tetap siaga bersama unsur pengamanan lainnya untuk menjaga situasi tetap kondusif.

Berkat sinergi antara panitia, Polsek Cibeber, Koramil Cibeber, Jawara Banten Bersatu, serta seluruh unsur masyarakat, rangkaian Seren Taun Kasepuhan Adat Cisitu berjalan aman, tertib, lancar, dan mendapat apresiasi dari masyarakat yang hadir.

Bagi JBB, keterlibatan dalam Seren Taun bukan sekadar bagian dari tugas sosial, melainkan bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat serta komitmen menjaga warisan budaya Banten agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Semangat gotong royong yang tercermin dalam pelaksanaan Seren Taun menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak dapat dipikul oleh masyarakat adat semata.

Dibutuhkan dukungan seluruh elemen, mulai dari pemerintah, aparat keamanan, organisasi kemasyarakatan, hingga masyarakat luas.

Melalui keterlibatan aktif tersebut, Jawara Banten Bersatu kembali menegaskan eksistensinya sebagai organisasi yang hadir bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga ikut merawat identitas budaya Banten agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang. (Iwan H)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *