Banner Hilang Tak Surutkan Langkah, Tim Rudi Rochman: Semakin Banyak Tantangan, Semakin Kuat Perubahan

 

BEKASI, MEDIAGANAS.ID – Dinamika politik menjelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak 2026 di Kabupaten Bekasi mulai terasa.

Di Desa Karangasih, Kecamatan Cikarang Utara, sejumlah banner sosialisasi bakal calon Kepala Desa, Rudi Rochman, dilaporkan hilang atau dicopot hanya beberapa jam setelah dipasang.

Peristiwa tersebut menjadi perhatian Tim Pemenangan Rudi Rochman. Namun, alih-alih terpancing emosi atau melontarkan tudingan, tim memilih menyikapinya sebagai bagian dari dinamika demokrasi yang harus dihadapi dengan kepala dingin.

Sekretaris Tim Pemenangan Rudi Rochman, Efendi Subandono, mengatakan banner yang dipasang pada Minggu malam di beberapa titik sudah tidak ditemukan saat dilakukan pengecekan pada Senin (13/7/2026). Sementara itu, banner di lokasi lain masih tetap terpasang.

“Alhamdulillah, kami menjadikan ini sebagai masukan yang terbaik. Semua yang terjadi kami yakini merupakan bagian dari proses demokrasi. Jika Allah SWT menakdirkan Bapak Rudi Rochman menjadi Kepala Desa Karangasih, insyaallah jalan itu akan dimudahkan,” ujar Efendi.

Ia menegaskan, tim pemenangan tidak ingin berspekulasi ataupun menuduh pihak tertentu sebagai penyebab hilangnya banner tersebut.

Menurutnya, menjaga suasana Pilkades yang damai jauh lebih penting daripada memperbesar persoalan yang belum diketahui penyebabnya.

Di tengah dinamika tersebut, komunikasi internal para relawan juga menunjukkan sikap yang cenderung menahan diri.

Dalam percakapan di grup koordinasi, salah seorang anggota menyarankan agar baliho yang berada di dekat Polsek, samping MBG, dibawa pulang karena kondisinya sudah rusak.

“Baliho yang di Polsek samping MBG bawa pulang saja, soalnya sudah rusak lagi aja,” tulis salah seorang relawan.

Percakapan kemudian berlanjut dengan berbagai tanggapan. Ada anggota yang menduga kondisi tersebut merupakan bentuk gangguan terhadap alat sosialisasi. Namun, tim memilih tidak menjadikan dugaan tersebut sebagai kesimpulan.

“Sabotase itu Bang karena itu kandang doyok,” tulis salah seorang anggota dalam percakapan tersebut.

Menanggapi hal itu, anggota lainnya justru mengingatkan agar baliho segera dirapikan sehingga tidak mengganggu masyarakat.

“Iya sudah rapihin, tarik aja. Jangan sampai baliho dibiarkan, itu mengganggu pandangan banyak orang. Setuju tarik aja dulu,” tulis anggota lainnya.

Koordinasi kemudian ditutup dengan keputusan untuk mengangkut baliho tersebut ke posko.

“Oke nanti malam kita angkut saja, bawa ke posko,” demikian isi percakapan lanjutan.

Di balik berbagai dinamika itu, muncul pula pesan yang menunjukkan semangat para relawan untuk tetap tenang menghadapi situasi.

“Emang kalau mau menang lurah kita banyak cobaan. Mudah-mudahan kita tidak kepancing emosi,” tulis salah seorang relawan.

Bagi Tim Pemenangan Rudi Rochman, pesan tersebut menjadi pengingat agar seluruh relawan tetap mengedepankan kesabaran, menjaga kondusivitas, dan tidak mudah terprovokasi oleh berbagai peristiwa yang terjadi selama tahapan Pilkades berlangsung.

Dengan nada santai, Efendi bahkan sempat menyelipkan candaan mengenai hilangnya banner tersebut.

“Mungkin saja ada warga yang suka dengan banner Pak Rudi Rochman, lalu dibawa pulang untuk dipasang di rumahnya,” katanya sambil tersenyum.

Meski demikian, di balik candaan tersebut tersimpan pesan bahwa kekuatan utama sebuah perjuangan bukan terletak pada alat peraga sosialisasi, melainkan pada kepercayaan masyarakat.

“Yang paling penting bukan banner, tetapi kepercayaan masyarakat. Kami akan terus hadir di tengah warga, mendengarkan aspirasi mereka, dan menawarkan gagasan perubahan untuk Desa Karangasih. Semakin banyak tantangan, semakin kuat semangat kami untuk menghadirkan perubahan yang nyata,” tegasnya.

Menurut Efendi, pendekatan dari rumah ke rumah dan komunikasi langsung dengan masyarakat akan terus menjadi strategi utama tim pemenangan.

Cara tersebut dinilai lebih efektif membangun hubungan emosional dibanding hanya mengandalkan media sosialisasi berupa banner.

Ia juga mengajak seluruh relawan dan pendukung untuk tetap menjaga sikap santun serta tidak mudah terpancing oleh berbagai dinamika yang muncul selama tahapan Pilkades berlangsung.

“Kami ingin Pilkades menjadi pesta demokrasi yang damai, penuh persaudaraan, dan saling menghormati. Persaingan boleh ada, tetapi persatuan masyarakat harus tetap dijaga. Siapa pun yang terpilih nanti adalah pemimpin bagi seluruh warga Karangasih,” ujarnya.

Di sisi lain, salah seorang relawan mengusulkan agar peringatan Hari Ulang Tahun Ikatan Remaja Kampung Baru (Irkaba) tahun ini dikemas lebih meriah dan fenomenal.

Kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum mempererat silaturahmi, memperkuat kekompakan warga, serta menumbuhkan semangat kebersamaan menjelang Pilkades.

Pemilihan Kepala Desa Serentak 2026 di Kabupaten Bekasi dijadwalkan berlangsung pada 20 September 2026.

Memasuki masa sosialisasi, para bakal calon mulai meningkatkan komunikasi dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan sebagai bagian dari proses demokrasi di tingkat desa.

Hilangnya sejumlah banner Rudi Rochman menjadi salah satu dinamika yang mewarnai perjalanan menuju Pilkades.

Namun bagi tim pemenangan, tantangan tersebut justru menjadi motivasi untuk terus bergerak, memperkuat komunikasi dengan warga, menjaga suasana yang kondusif, serta mengusung semangat perubahan yang damai dan bermartabat. [*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *