LEBAK, MEDIAGANAS.ID – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, kepedulian terkadang hadir dalam bentuk yang sederhana: seseorang datang mengetuk pintu, membawa kebutuhan pokok, dan menyampaikan pesan bahwa masih ada tangan yang bersedia membantu.
Suasana itulah yang terasa di rumah Abah Jatir, warga Kampung Warungsugan, RT/RW 007/002, Desa Cilegong Ilir, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak, Banten, Selasa (15/9/2026) malam.
Sekitar pukul 18.20 WIB, Abah Jatir menerima bantuan kebutuhan pokok dari Afrijal, Direktur Utama CV Falaha Dahril, perusahaan tambang galian pasir yang beroperasi di wilayah Kecamatan Banjarsari.
Bantuan yang diberikan antara lain berupa beras sebanyak 10 kilogram serta sejumlah kebutuhan pokok lainnya.
Bagi sebagian orang, bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi Abah Jatir, perhatian yang datang ke rumahnya memiliki arti yang jauh lebih dalam.
Sebab, bantuan bukan hanya berbicara tentang apa yang diberikan, tetapi juga tentang kepedulian dan kehadiran seseorang ketika warga lain sedang menghadapi keterbatasan.
Afrijal mengatakan, bantuan tersebut diberikan atas inisiatif pribadi. Tidak ada maksud lain selain membantu warga yang memang membutuhkan.
“Ini atas dasar inisiatif sendiri. Saya ingin membantu warga yang memang membutuhkan. Semoga bantuan ini dapat sedikit meringankan beban,” ujar Afrijal.
Datang Langsung, Melihat dan Merasakan
Afrijal memilih datang langsung ke kediaman Abah Jatir. Langkah tersebut menjadi bentuk kepedulian terhadap kondisi warga di lingkungan sekitar.
Dalam kegiatan itu, Afrijal turut didampingi Ketua GRIB Jaya PAC Kecamatan Banjarsari, Tanu Wijaya.
Tanu mengapresiasi kepedulian yang ditunjukkan Afrijal. Menurutnya, perhatian kepada masyarakat yang membutuhkan merupakan bagian penting dari kehidupan sosial yang perlu terus dipelihara.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Membantu masyarakat yang membutuhkan merupakan bentuk kepedulian sosial dan sudah menjadi kewajiban kita bersama sebagai sesama manusia,” kata Tanu Wijaya.
Menurut Tanu, kepedulian tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk besar. Justru perhatian yang diberikan secara langsung kepada warga yang membutuhkan dapat menjadi energi positif untuk membangun rasa kebersamaan.
Abah Jatir: Semoga Kebaikan Dibalas dengan Kebaikan
Bagi Abah Jatir, kedatangan Afrijal membawa kebahagiaan tersendiri.
Ia menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas bantuan yang diterimanya.
“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih atas bantuan yang diberikan. Semoga kebaikan ini mendapatkan balasan yang baik,” ungkap Abah Jatir.
Ungkapan tersebut menjadi sisi paling sederhana sekaligus menyentuh dari aksi sosial tersebut.
Tidak ada panggung besar. Tidak ada seremoni panjang. Hanya pertemuan antara seseorang yang ingin berbagi dengan warga yang sedang membutuhkan.
Kepedulian yang Diharapkan Menjadi Gerakan Bersama
Aksi sosial tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan sesaat. Lebih jauh, kepedulian seperti itu diharapkan dapat menginspirasi masyarakat lainnya untuk melakukan hal serupa sesuai kemampuan masing-masing.
Di tengah berbagai persoalan sosial dan ekonomi yang masih dihadapi sebagian masyarakat, semangat saling membantu menjadi salah satu kekuatan penting untuk menjaga ketahanan sosial.
Bantuan kepada Abah Jatir memang tidak serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan yang dihadapinya. Namun, setidaknya bantuan tersebut menjadi bukti bahwa kepedulian masih hidup dan dapat diwujudkan melalui tindakan nyata.
Dari sebuah rumah sederhana di Kampung Warungsugan, muncul pesan yang kuat bahwa membantu sesama tidak harus menunggu menjadi kaya atau memiliki sesuatu yang besar.
Sebab, terkadang satu karung beras, satu uluran tangan, dan satu kepedulian yang tulus sudah cukup untuk membuat seseorang merasa bahwa dirinya tidak sendirian.
Semangat berbagi itulah yang diharapkan terus tumbuh di Banjarsari dan Kabupaten Lebak. Bukan sekadar memberi bantuan, tetapi membangun budaya kepedulian agar masyarakat yang sedang menghadapi keterbatasan tetap memiliki harapan dan merasa menjadi bagian penting dari kehidupan bersama. (Iwan H)
