BEKASI, MEDIAGANAS.ID – Sebuah sapu, cangkul, dan semangat kebersamaan akan menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah di Cikarang, Minggu (19/7/2026).
Bukan sekadar membersihkan rerumputan atau merapikan lingkungan pemakaman, puluhan jamaah Majelis Istighotsah Jannatul Amal (MIJA) Cikarang Utara akan bergotong royong merawat maqbarah ulama kharismatik KH Muhammad Fudholi, sosok yang meninggalkan jejak panjang dalam dunia pendidikan Islam, perjuangan kemerdekaan, dan pembinaan masyarakat Bekasi.
Kegiatan yang dimulai pukul 07.00 WIB itu menjadi ajakan untuk melihat kembali bahwa kemajuan sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung baru, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat menjaga warisan sejarah para pendahulunya.
Ketua MIJA Cikarang Utara, Rudi Rochman, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada ulama yang telah mengabdikan hidupnya demi kemajuan umat.
“Untuk segenap jamaah Majelis Istighotsah Jannatul Amal yang memiliki waktu luang, mari bersama-sama mengikuti kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan maqbarah Abuya KH Muhammad Fudholi. Semoga kegiatan ini menjadi amal kebaikan dan semakin mempererat ukhuwah serta kebersamaan di tengah masyarakat,” ujar Rudi, Sabtu (18/7/2026).
Menurutnya, membersihkan maqbarah tidak boleh dipandang hanya sebagai aktivitas fisik. Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan upaya merawat memori kolektif masyarakat terhadap perjuangan ulama yang telah meletakkan fondasi pendidikan, dakwah, dan nilai-nilai kebangsaan di Cikarang.
Bagi MIJA, maqbarah KH Muhammad Fudholi bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir seorang ulama, melainkan ruang sejarah yang menyimpan kisah perjuangan panjang yang patut dikenalkan kepada generasi muda.
Lahir dari Ujian, Tumbuh Menjadi Cahaya Ilmu
Perjalanan hidup KH Muhammad Fudholi penuh dengan ujian sejak usia dini. Putra pasangan H Anwar dan Murtafiah itu kehilangan ayahnya ketika baru berusia lima tahun. Sang ayah wafat saat menunaikan ibadah haji di Tanah Suci.
Sejak itu, ia diasuh oleh kakeknya, H Yusuf, seorang syekh yang disegani di Cicurug. Di bawah bimbingan sang kakek, ia menempuh pendidikan di Jamiatul Khair Pekojan, Batavia, salah satu lembaga pendidikan Islam modern yang melahirkan banyak tokoh bangsa.
Di lembaga tersebut, KH Muhammad Fudholi menguasai bahasa Arab dan Belanda sebelum memperdalam ilmu agama di berbagai pesantren. Bekal keilmuan itulah yang kemudian menjadi pondasi dakwah dan perjuangannya.
Mengubah Tanah Angker Menjadi Pusat Pendidikan
Pada 1932, KH Muhammad Fudholi memutuskan berhijrah ke Cikarang. Saat itu, kawasan tersebut masih dikenal sebagai daerah yang minim pendidikan Islam dan identik dengan keberadaan para jawara serta garong.
Ia memulai perjuangannya dari sebidang tanah yang oleh masyarakat dianggap angker. Pemilik lahan bahkan memberi syarat bahwa ia harus mampu bertahan selama satu bulan bila ingin menetap di sana.
Dengan keteguhan iman dan keyakinan, tantangan tersebut berhasil dilalui. Di atas tanah itulah kemudian berdiri Madrasah Jannatul Amal, yang berkembang menjadi salah satu pelopor pendidikan Islam formal di Cikarang.
Madrasah tersebut kemudian melahirkan banyak alumni yang berkiprah dalam bidang pendidikan, keagamaan, pemerintahan, dan kehidupan sosial masyarakat.
Ulama yang Turut Mengangkat Senjata
Perjuangan KH Muhammad Fudholi tidak hanya berlangsung di ruang-ruang pendidikan.
Saat Indonesia mempertahankan kemerdekaannya, ia ikut bergerilya melawan agresi Belanda. Pada siang hari mengajar para santri, sementara malam hari bergabung bersama para pejuang mempertahankan tanah air.
Dedikasinya membuat masyarakat memberikan kepercayaan kepadanya untuk mengemban berbagai amanah penting, mulai dari Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI), pimpinan pasukan Hizbullah, hingga anggota DPR-GR dari Partai Masyumi yang mewakili wilayah Mester Cornelis hingga Karawang.
Besarnya pengaruh KH Muhammad Fudholi dalam membina umat juga membuat namanya pernah menjadi salah satu target Partai Komunis Indonesia (PKI) di kawasan Cikarang. Namun, berbagai ancaman tersebut berhasil dilalui.
KH Muhammad Fudholi wafat pada 26 Januari 1974, hanya sepekan setelah menunaikan ibadah haji. Warisan perjuangannya terus hidup melalui Yayasan Darunnadwah dan Ats-Tsurayya yang dikembangkan keluarga besarnya. Namanya pun diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Cikarang sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya.
Gotong Royong Merawat Sejarah
Melalui kegiatan gotong royong ini, MIJA berharap tumbuh kesadaran bahwa merawat maqbarah ulama berarti menjaga mata rantai sejarah yang tidak boleh terputus.
Rudi menilai nilai-nilai gotong royong merupakan bagian dari ajaran Islam sekaligus budaya bangsa yang harus terus diwariskan kepada generasi muda.
“Merawat maqbarah para ulama sejatinya adalah merawat sejarah. Ketika masyarakat terus mengenang jasa para pendahulunya, maka nilai-nilai keilmuan, perjuangan, persaudaraan, dan pengabdian akan tetap hidup serta menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya,” kata Rudi, yang juga merupakan bakal calon Kepala Desa Karangasih, Kecamatan Cikarang Utara.
Ia berharap kegiatan sederhana tersebut mampu menggerakkan lebih banyak masyarakat untuk ikut menjaga situs-situs bersejarah yang menjadi saksi lahirnya pendidikan Islam dan perjuangan kemerdekaan di Kabupaten Bekasi.
Sebab, sejarah tidak hanya tersimpan di dalam buku-buku, tetapi juga hidup melalui kepedulian masyarakat. Ketika tangan-tangan bergotong royong membersihkan maqbarah para ulama, sesungguhnya yang sedang dirawat bukan hanya sebuah kawasan pemakaman, melainkan juga identitas, nilai perjuangan, dan jati diri sebuah daerah agar tetap hidup dalam ingatan lintas generasi. [*]
