Breaking News
Beranda » KESEHATAN
KESEHATAN

Trombosit Anjlok ke Angka 60 Ribu! Warga Malingping Dirawat di RSUD, Dinas Kesehatan Lebak Diminta Bergerak

M Taufik Hidayat (31), warga Kampung Pasir Gedong, Desa Cilangkahan, Kecamatan Malingping, menjalani perawatan di RSUD Malingping setelah kadar trombositnya turun hingga 60 ribu akibat dugaan DBD. Ia berharap Dinas Kesehatan Lebak segera memeriksa lingkungan tempat tinggalnya untuk mencegah penularan. (Foto: Istimewa)

 

MEDIAGANAS.ID, LEBAK – Ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali mengetuk pintu kewaspadaan warga Kabupaten Lebak, Banten.

Seorang warga Kampung Pasir Gedong, Desa Cilangkahan, Kecamatan Malingping, harus menjalani perawatan di RSUD Malingping setelah kondisinya memburuk dengan kadar trombosit yang terus merosot hingga 60 ribu.

Pasien bernama M Taufik Hidayat (31) itu sebelumnya menjalani perawatan selama dua malam di Puskesmas Rawat Inap Malingping. Namun, demam disertai menggigil tak kunjung mereda.

Kondisi tersebut membuat tenaga medis memutuskan merujuknya ke rumah sakit agar memperoleh penanganan lebih intensif.

Angka trombosit yang turun jauh di bawah kisaran normal menjadi perhatian serius. Di tengah perjuangan menjalani perawatan, Taufik kini berharap pemerintah tidak menunggu munculnya korban berikutnya untuk memeriksa lingkungan tempat tinggalnya.

“Saya mohon kepada pemerintah, khususnya Dinas Kesehatan Lebak, tolong cek lingkungan kami di Pasir Gedong. Kalau memang ada jentik nyamuk DBD, segera lakukan fogging sebelum korban bertambah,” pinta Taufik saat ditemui Jumat (16/10/2026).

Dua Malam Dirawat, Kondisi Tak Kunjung Membaik

Taufik mengisahkan, dirinya telah mendapatkan perawatan di Puskesmas Malingping selama dua malam. Namun, panas dingin yang terus dirasakan membuat kondisinya harus mendapatkan penanganan lanjutan.

“Sudah dua malam dirawat di Puskesmas Malingping, panas dingin terus. Akhirnya dirujuk ke RSUD,” tuturnya.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat agar masyarakat tidak meremehkan demam yang berlangsung selama beberapa hari. Terlebih, apabila kondisi tubuh semakin lemah atau muncul gejala lain yang mengkhawatirkan, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan.

Meski masih menjalani perawatan, Taufik menyempatkan diri menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang telah membantu penanganannya.

“Terima kasih untuk Relawan Kemanusiaan RESPEK Peduli Lebak, Puskesmas Malingping, dan RSUD Malingping yang sudah membantu saya,” ucapnya.

Trombosit Menurun, Puskesmas Siapkan Penyelidikan Epidemiologi

Plt Kepala Puskesmas Rawat Inap Malingping, Aep Saepullah, membenarkan bahwa kondisi Taufik memerlukan penanganan lebih lanjut. Berdasarkan hasil pemeriksaan, kadar trombosit pasien terus menurun hingga mencapai 60 ribu.

“Secara klinis mengarah ke DBD, trombosit turun terus. Terakhir kemarin di angka 60 ribu. Itu sudah sangat rendah, makanya kita rujuk ke RSUD untuk penanganan intensif,” jelas Aep.

Kadar trombosit normal pada orang dewasa umumnya berkisar antara 150 ribu hingga 450 ribu per mikroliter darah. Penurunan hingga 60 ribu memerlukan pemantauan ketat oleh tenaga medis.

Sebagai tindak lanjut, Puskesmas Rawat Inap Malingping berencana turun langsung ke lingkungan tempat tinggal pasien untuk melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE). Langkah ini ditujukan untuk menelusuri kemungkinan penularan, memeriksa keberadaan jentik nyamuk, sekaligus menentukan upaya pengendalian yang diperlukan.

“Besok kita langsung turun. Kita akan lakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) ke rumah pasien, kita cek jentik di sekitar Pasir Gedong, kita beri abate, dan kita gerakkan warga untuk 3M Plus,” ungkap Aep.

Fogging Bukan Satu-satunya Jawaban, Warga Diminta Bergerak

Selain pemeriksaan lingkungan, pencegahan DBD juga membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat.

Puskesmas mengajak warga menjalankan gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penyimpanan air, serta mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Pemberian abate dan pemeriksaan jentik menjadi bagian dari upaya pengendalian yang dapat dilakukan sesuai hasil pemeriksaan petugas.

Sementara itu, fogging perlu ditentukan berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi dan indikasi penularan, bukan dilakukan secara sembarangan.

Dengan demikian, penanganan tidak hanya berfokus pada penyemprotan nyamuk dewasa, tetapi juga memutus tempat perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD.

Aep mengingatkan masyarakat agar segera mencari pertolongan medis ketika mengalami demam tinggi mendadak selama dua hingga tiga hari, terlebih jika kondisi tubuh memburuk.

“Kami imbau warga Malingping, jika ada keluarga yang demam tinggi mendadak dua sampai tiga hari, jangan tunda, langsung ke Puskesmas. Jangan sampai terlambat. Mudah-mudahan di Pasir Gedong tidak ada tambahan kasus,” pungkasnya.

Kasus yang dialami Taufik menjadi pengingat bahwa kewaspadaan terhadap DBD tidak boleh berhenti pada kekhawatiran.

Pemeriksaan lingkungan, pemberantasan sarang nyamuk, edukasi masyarakat, serta penanganan medis sejak dini perlu berjalan beriringan agar risiko penularan dapat ditekan dan warga lainnya terlindungi. (Iwan H)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga