BEKASI, MEDIAGANAS.ID – Menjelang Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak 2026 Kabupaten Bekasi, suara tentang demokrasi yang sehat kembali mengemuka.
Di Desa Karangasih, Kecamatan Cikarang Utara, warga dihadapkan pada pilihan penting: memilih pemimpin karena kekuatan modal, atau menentukan pilihan berdasarkan rekam jejak, integritas, gagasan, dan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat.
Pilkades bukan sekadar pertarungan memenangkan suara. Di balik setiap surat suara terdapat harapan warga tentang masa depan desa, pelayanan publik, pembangunan, pendidikan, lingkungan, hingga kesejahteraan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan HK Damin Sada, mantan Kepala Desa Sriamur, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi, yang pernah memimpin selama dua periode pada 1993–2007.
Berangkat dari pengalaman panjangnya memimpin desa sekaligus memenangkan kontestasi kepala desa, HK Damin Sada menegaskan bahwa uang tidak seharusnya menjadi ukuran utama dalam menentukan seorang pemimpin desa.
“Alhamdulillah saya menjabat kepala desa tanpa money politik. Saya memenangkannya. Saya berharap masyarakat, khususnya warga Kabupaten Bekasi, tidak melihat berapa banyak modal atau uang yang dimiliki calon kepala desa untuk memenangkan pemilihan,” ujar HK Damin Sada, Minggu (16/8/2026).
Menurutnya, masyarakat memiliki hak sekaligus tanggung jawab untuk mengenali calon secara lebih mendalam. Rekam jejak, karakter, kapasitas kepemimpinan, visi pembangunan, serta program yang ditawarkan harus menjadi pertimbangan sebelum menentukan pilihan.
“Jangan melihat karena banyak uangnya, tetapi lihat program ke depan yang lebih baik untuk masyarakat sekitar kita,” tegasnya.
Dari Adu Modal Menuju Adu Gagasan
Pesan tersebut dinilai relevan dengan dinamika Pilkades Karangasih yang kini memasuki tahapan menuju pemungutan suara.
Sekretaris Tim Pemenangan Rudi Rochman, Efendi Subandono, mengatakan demokrasi desa akan memiliki makna yang lebih kuat apabila masyarakat diberikan ruang untuk membandingkan gagasan dan kapasitas para calon secara terbuka.
“Pesan HK Damin Sada sangat menyentuh dan sejalan dengan apa yang dibawa Rudi Rochman. Masyarakat harus diberikan ruang untuk melihat program dan gagasan calon, bukan semata-mata melihat persoalan modal,” kata Efendi.
Dalam kontestasi Pilkades Karangasih periode 2026–2034, Rudi Rochman membawa gagasan “Karangasih Bahagia” dengan semangat “Perubahan Nyata untuk Desa Karangasih.”
Gagasan tersebut diarahkan pada sejumlah persoalan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan warga, mulai dari penanganan banjir, pembenahan drainase, peningkatan infrastruktur, pengelolaan lingkungan, akses pendidikan, pendampingan hukum, hingga perhatian terhadap kesejahteraan guru ngaji.
Karangasih Bebas Banjir, Keluhan Warga Menjadi Agenda Pembangunan
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian Rudi Rochman adalah banjir dan genangan yang kerap mengganggu aktivitas masyarakat ketika hujan deras turun.
Melalui gagasan Karangasih Bebas Banjir, Rudi mendorong normalisasi saluran air, pembenahan infrastruktur, serta pembangunan sistem drainase yang lebih terencana, lancar, dan terawat.
Menurutnya, banjir tidak boleh hanya ditangani ketika air sudah masuk ke permukiman. Persoalan tersebut membutuhkan perencanaan jangka panjang, pemeliharaan saluran, pembangunan berkelanjutan, serta keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Bersama kita bisa, bersama kita atasi. Penanganan banjir membutuhkan kerja sama seluruh elemen masyarakat agar lingkungan Karangasih menjadi lebih aman dan nyaman, terutama saat musim hujan,” ujar Rudi.
Bagi Rudi, drainase bukan sekadar proyek fisik. Saluran air yang tertata merupakan bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang sehat, aman, dan nyaman bagi masyarakat.
Karena itu, pembangunan infrastruktur harus dirancang berdasarkan kebutuhan warga dan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat sehari-hari.
Membangun Desa Bukan Sekadar Membangun Jalan
Bagi Rudi Rochman, ukuran keberhasilan pembangunan desa tidak berhenti pada jumlah jalan, bangunan, maupun fasilitas fisik yang berhasil dibangun.
Pembangunan harus hadir dan terasa dalam kehidupan masyarakat.
Karena itu, konsep Karangasih Bahagia juga mencakup gagasan Karangasih Bebas Sampah, pendampingan hukum gratis, serta Program Paket C Gratis bagi masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan.
Gagasan tersebut menempatkan pembangunan manusia sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan desa.
“Pembangunan harus memberikan manfaat yang nyata. Infrastruktur yang baik perlu berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pelayanan kepada masyarakat,” kata Rudi.
Menurutnya, desa yang maju membutuhkan fondasi yang kuat, bukan hanya secara fisik, tetapi juga sosial dan sumber daya manusia.
Infrastruktur yang baik harus berjalan bersama lingkungan yang bersih, pendidikan yang mudah diakses, pelayanan hukum yang dekat dengan masyarakat, serta kebijakan yang benar-benar menjawab kebutuhan warga.
Guru Ngaji, Penjaga Pondasi Moral Generasi
Di antara berbagai gagasan yang diusung Rudi Rochman, perhatian terhadap kesejahteraan guru ngaji menjadi salah satu isu yang mendapat penekanan.
Rudi memandang guru ngaji memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat. Mereka bukan hanya mengajarkan membaca Al-Qur’an dan ilmu keagamaan, tetapi juga ikut menanamkan nilai moral, akhlak, dan karakter kepada generasi muda.
“Guru ngaji adalah bagian penting dalam membangun karakter masyarakat. Karena itu, kesejahteraan mereka perlu mendapatkan perhatian melalui kebijakan yang jelas dan berkelanjutan,” ujar Rudi.
Menurutnya, penghargaan terhadap guru ngaji tidak cukup berhenti pada pendataan atau kegiatan seremonial. Perhatian tersebut harus diterjemahkan dalam kebijakan yang nyata dan berkelanjutan.
Sebab, di ruang-ruang pengajian dan madrasah, para guru ngaji ikut menjaga pondasi moral generasi Karangasih.
“Ketika guru ngaji diperhatikan, maka perjuangan mereka dalam mendidik anak-anak akan semakin kuat. Dari tangan para guru ngaji, lahir generasi yang berakhlak, berilmu, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan serta masyarakatnya,” tuturnya.
Pilkades Boleh Kompetitif, Persaudaraan Jangan Retak
Menjelang Pilkades Serentak 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 20 September 2026, Efendi Subandono mengajak masyarakat Karangasih menyambut pesta demokrasi desa dengan penuh kedewasaan.
Baginya, perbedaan pilihan merupakan keniscayaan dalam demokrasi. Namun, perbedaan politik tidak boleh berubah menjadi permusuhan yang memutus tali silaturahmi.
“Mari kita sambut Pilkades dengan hati yang gembira dan penuh semangat. Jadikan perbedaan pilihan sebagai bagian dari demokrasi yang sehat,” kata Efendi.
Ia mengingatkan bahwa seluruh kandidat, tim, relawan, dan pendukung pada dasarnya merupakan bagian dari masyarakat yang sama.
“Tidak perlu saling menghina atau mencaci, karena setelah Pilkades kita tetap saudara, tetap satu desa, dan bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.
Satu Suara, Satu Harapan untuk Karangasih
Pada akhirnya, Pilkades bukan sekadar perlombaan untuk mengumpulkan suara sebanyak-banyaknya.
Di balik satu suara warga Karangasih terdapat harapan tentang arah pembangunan desa untuk periode mendatang.
Karena itu, masyarakat memiliki peran penting untuk menentukan pilihan secara cerdas, rasional, dan bermartabat.
Calon kepala desa semestinya dinilai dari rekam jejak, integritas, kapasitas, gagasan, kepedulian, serta program yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat.
Demokrasi desa tidak seharusnya berubah menjadi adu tebal modal, tetapi menjadi adu gagasan, adu rekam jejak, dan adu keberanian untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.
Sebab, Karangasih tidak hanya membutuhkan seseorang yang mampu memenangkan pemilihan.
Karangasih membutuhkan pemimpin yang setelah menang tetap berdiri bersama rakyat, mendengar suara warga, menunaikan janji, dan bekerja menghadirkan perubahan nyata.
Karena suara rakyat bukan sekadar angka dalam kotak suara. Di dalamnya ada amanah, harapan, dan masa depan Karangasih.[*]
