BEKASI, MEDIAGANAS.ID – Indonesia kembali dihadapkan pada dua wajah persoalan bangsa dalam satu hari. Di utara Flores, Nusa Tenggara Timur, bumi berguncang hebat dan memaksa masyarakat berhadapan dengan ancaman gempa serta tsunami. Di Banda Aceh, momentum memperingati 21 tahun perdamaian justru berakhir dalam kericuhan.
Dua peristiwa berbeda itu menyampaikan satu pesan yang sama: Indonesia membutuhkan lebih banyak solidaritas, ketenangan dan persatuan.
Pesan tersebut disampaikan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerakan Rakyat Kota Bekasi. Dari Kota Bekasi, suara kepedulian ditujukan kepada masyarakat Nusa Tenggara Timur yang tengah menghadapi bencana sekaligus kepada masyarakat Aceh agar perdamaian yang telah dirawat selama lebih dari dua dekade tidak kembali ternoda oleh konflik.
Ketua DPD Partai Gerakan Rakyat Kota Bekasi, Nanang Kosim, menyampaikan duka mendalam kepada masyarakat NTT yang terdampak gempa.
“Semoga para korban yang meninggal dunia mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, serta seluruh masyarakat yang terdampak diberikan kekuatan dalam menghadapi masa sulit ini,” ujar Nanang, Sabtu (15/8/2026).
Flores Diguncang Gempa M7,7
Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8/2026) sekitar pukul 04.58 WIB.
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer. Gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas Flores Back-Arc Thrust.
Guncangan kuat tersebut sempat memicu peringatan dini tsunami. BMKG mencatat tsunami terdeteksi di sejumlah wilayah, antara lain Sikka, Flores Timur, Labuan Bajo, Maurole-Ende, Dompu dan Alor.
Gelombang tertinggi tercatat mencapai 0,94 meter di Maurole-Ende pada pukul 05.27 WIB. Peringatan dini tsunami kemudian diakhiri BMKG pada pukul 07.30 WIB.
Namun, kewaspadaan belum berakhir.
Hingga pukul 14.00 WIB, BMKG mencatat sebanyak 235 gempa susulan dengan magnitudo antara 2,5 hingga 6,2. Aktivitas seismik tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih harus berhati-hati terhadap potensi gempa susulan.
Di tengah situasi tersebut, Nanang mengajak seluruh masyarakat Indonesia tidak sekadar menyampaikan belasungkawa, tetapi juga membangun kepedulian nyata.
“Bencana tidak mengenal batas wilayah, suku maupun latar belakang. Karena itu, ketika saudara-saudara kita di NTT menghadapi musibah, sudah sepatutnya kita hadir dengan kepedulian dan semangat gotong royong,” katanya.
Menurutnya, Indonesia dibangun bukan hanya oleh kekuatan pemerintah, tetapi juga oleh kepedulian rakyat terhadap rakyat lainnya.
Ketika satu daerah tertimpa musibah, daerah lain tidak boleh berpaling.
Dari Bekasi, kepedulian itu harus menjadi bagian dari semangat kebangsaan.
Hari Damai Aceh Jangan Berubah Menjadi Luka
Keprihatinan DPD Partai Gerakan Rakyat Kota Bekasi tidak berhenti di Flores.
Pada hari yang sama, perhatian juga tertuju ke Banda Aceh. Peringatan Hari Damai Aceh ke-21 di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Sabtu (15/8/2026), berakhir dengan kericuhan setelah rangkaian kegiatan yang sebelumnya diisi zikir, doa bersama dan orasi.
Kericuhan dilaporkan bermula ketika massa berupaya mengibarkan bendera bulan bintang di kawasan kompleks masjid. Situasi kemudian berkembang menjadi bentrokan antara massa dan aparat keamanan. Sejumlah laporan juga menyebut adanya kerusakan kendaraan serta penggunaan gas air mata dalam upaya membubarkan massa.
Peristiwa tersebut menjadi perhatian karena terjadi pada momentum yang semestinya menjadi ruang untuk mengenang perdamaian Aceh.
Bagi Gerakan Rakyat Kota Bekasi, perdamaian bukan sekadar seremoni tahunan. Perdamaian adalah hasil perjuangan panjang yang harus dijaga bersama.
Nanang Kosim mengajak seluruh pihak menahan diri dan mengedepankan dialog.
“Perbedaan harus diselesaikan melalui dialog dan cara-cara yang damai. Jangan sampai ketegangan berkembang menjadi konflik yang lebih luas dan akhirnya masyarakat yang menjadi korban,” tegasnya.
Jangan Biarkan Perbedaan Merobek Persaudaraan
Indonesia adalah rumah besar yang dibangun dari keberagaman.
Perbedaan suku, budaya, bahasa, agama, pilihan politik dan latar belakang sosial seharusnya menjadi kekuatan, bukan alasan untuk saling berhadapan.
Aceh memiliki sejarah panjang tentang arti mahal sebuah perdamaian. Karena itu, setiap bentuk ketegangan harus disikapi dengan kepala dingin dan semangat menjaga persaudaraan.
Demikian pula bencana di Flores harus menjadi pengingat bahwa ketika alam menguji satu daerah, seluruh Indonesia harus mampu berdiri bersama.
Saat Flores membutuhkan pertolongan, Indonesia harus hadir.
Saat Aceh membutuhkan ketenangan, Indonesia harus menjaga.
Dan ketika perbedaan mulai memanaskan keadaan, seluruh anak bangsa harus mengingat bahwa tidak ada kemenangan dalam konflik yang meninggalkan luka bagi rakyat.
Dari Bekasi untuk Indonesia
Dua peristiwa pada 15 Agustus 2026 itu menghadirkan pelajaran penting.
Di Flores, manusia berhadapan dengan kekuatan alam yang tidak dapat dikendalikan.
Di Aceh, manusia diuji untuk mengendalikan emosi, menjaga kedewasaan dan merawat perdamaian di tengah perbedaan.
Keduanya membutuhkan satu hal yang sama: kepedulian.
Bagi DPD Partai Gerakan Rakyat Kota Bekasi, kepedulian terhadap sesama tidak boleh berhenti pada batas administrasi wilayah.
Bekasi bukan hanya bagian dari Jawa Barat. Bekasi juga bagian dari Indonesia.
Karena itu, doa dan kepedulian dari Bekasi ditujukan kepada masyarakat NTT yang sedang menghadapi musibah. Pada saat yang sama, harapan perdamaian dipanjatkan untuk masyarakat Aceh agar situasi segera kembali kondusif.
“Semoga masyarakat NTT diberikan kekuatan menghadapi bencana dan masyarakat Aceh senantiasa diberikan kedamaian. Indonesia akan kuat apabila rakyatnya saling menjaga dan menguatkan,” ujar Nanang.
Pesan tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa gerakan politik, dalam pandangan Gerakan Rakyat, tidak boleh kehilangan akar kemanusiaannya.
Politik harus menghadirkan kepedulian.
Perbedaan harus melahirkan kedewasaan.
Kekuatan harus digunakan untuk melindungi, bukan melukai.
Dan ketika bangsa menghadapi ujian, seluruh rakyat harus mampu berdiri dalam satu barisan persaudaraan Indonesia.
Sebab pada akhirnya, Flores bukan hanya milik Flores. Aceh bukan hanya milik Aceh. Mereka adalah bagian dari Indonesia, dan setiap luka di satu sudut negeri adalah panggilan kemanusiaan bagi seluruh anak bangsa.
Dari Bekasi, pesan itu ditegaskan:
Indonesia boleh berbeda pilihan, tetapi jangan berbeda dalam menjaga persaudaraan.
Indonesia boleh beragam suara, tetapi harus tetap satu dalam kemanusiaan.
Gerakan Rakyat — Bergerak, Bergotong Royong Bersama, Untuk Rakyat.[*]
