MEDIAGANAS.ID – Kerukunan tidak lahir dari keseragaman. Ia tumbuh ketika perbedaan agama, keyakinan, dan latar belakang justru dipertemukan dalam ruang dialog, silaturahmi, dan saling menghargai.
Semangat itulah yang dikobarkan Forum Wanita Lintas Agama (Forwala) Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bekasi melalui seminar sehari bertajuk “Harmoni dalam Keberagaman”, Senin (5/10/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Festival Kerukunan Umat Beragama, sekaligus menjadi ruang bagi kaum perempuan untuk memperkuat jejaring persaudaraan lintas agama dan mendorong lahirnya kehidupan masyarakat yang semakin toleran.
Ketua Forwala FKUB Kabupaten Bekasi, Sri Sugiarti, menegaskan bahwa kerukunan tidak cukup hanya dibicarakan di ruang seminar. Nilai-nilai toleransi harus dibawa pulang dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Sri, seminar tersebut merupakan kelanjutan dari agenda sebelumnya, yakni kunjungan ke sejumlah tempat ibadah.
Kunjungan lintas agama itu menjadi momentum penting untuk membuka ruang perjumpaan sekaligus menghapus sekat-sekat yang selama ini mungkin muncul karena minimnya interaksi antarkelompok.
“Yang sudah kami laksanakan dalam rangkaian kegiatan ini adalah berkunjung ke tempat-tempat ibadah. Tujuannya untuk saling mengenal dan bersilaturahmi. Insyaallah, dengan silaturahmi akan membawa kedamaian,” ujar Sri Sugiarti.
Dari Silaturahmi Menuju Gerakan Nyata
Usai mengunjungi sejumlah tempat ibadah, Forwala kemudian memperluas gerakannya melalui seminar yang melibatkan berbagai organisasi perempuan Islam dan organisasi kemasyarakatan.
Di antaranya Fatayat Nahdlatul Ulama (NU), Muslimah, Tamki, serta sejumlah organisasi kemasyarakatan lainnya.
Bagi Forwala, keterlibatan perempuan bukan sekadar pelengkap. Perempuan justru memiliki posisi strategis dalam membangun karakter toleran, terutama karena nilai-nilai tersebut dapat ditanamkan sejak dari lingkungan keluarga.
“Harapan kami, apa yang didapatkan dalam kegiatan hari ini bisa diimplementasikan di lapangan. Perempuan memiliki peran besar dalam memengaruhi lingkungan sekitarnya,” kata Sri.
Ia menambahkan, sikap menghormati perbedaan harus menjadi kebiasaan yang hidup di tengah masyarakat.
“Karena itu, melalui kegiatan ini, kita ingin membangun sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan,” sambungnya.
Pemkab Bekasi Beri Dukungan
Semangat membangun kerukunan tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Bekasi.
Plt Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja berhalangan hadir secara langsung karena agenda mendesak. Dukungan pemerintah daerah kemudian disampaikan melalui Asda I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Hudaya.
Dukungan tersebut dinilai penting untuk memperkuat eksistensi Forwala FKUB sebagai salah satu elemen strategis dalam menjaga kerukunan antarumat beragama di Kabupaten Bekasi.
Sri menilai, perempuan memiliki kekuatan besar untuk menjadi agen perdamaian. Gerakan tersebut dapat dimulai dari ruang paling kecil, yakni keluarga, kemudian berkembang ke lingkungan masyarakat yang lebih luas.
“Perempuan bisa menjadi penggerak suasana damai dan harmonis, mulai dari keluarga hingga kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua FKUB Kabupaten Bekasi KH Soleh Jaelani. Ketua DPRD Kabupaten Bekasi Ade Sukron dan anggota DPRD Kabupaten Bekasi dari Fraksi PKS, Saeful Islam, juga hadir sebagai narasumber.
Tak Berhenti di Seminar, Forwala Siapkan Lomba Paduan Suara
Forwala FKUB Kabupaten Bekasi tidak ingin semangat “Harmoni dalam Keberagaman” berhenti sebagai wacana di ruang seminar.
Sebagai bentuk tindak lanjut, Forwala menyiapkan program lomba paduan suara dengan lagu bertema perdamaian sebagai lagu wajib.
Program ini diharapkan menjadi medium kreatif untuk menyampaikan pesan toleransi sekaligus menanamkan semangat persatuan kepada masyarakat.
Menariknya, lomba tersebut direncanakan terbagi dalam kategori remaja dan dewasa. Dengan demikian, pesan perdamaian dapat menjangkau lintas generasi.
Paduan suara dipilih bukan tanpa alasan. Ketika banyak suara dinyanyikan dalam satu harmoni, perbedaan karakter suara justru menghasilkan keindahan.
Pesan itulah yang hendak dibawa Forwala: berbeda bukan berarti harus terpisah.
Melalui Festival Kerukunan Umat Beragama, Forwala FKUB Kabupaten Bekasi ingin menjadikan toleransi bukan sekadar slogan yang terpampang dalam spanduk atau tema kegiatan.
Lebih dari itu, toleransi diharapkan tumbuh menjadi sikap, kebiasaan, dan gerakan bersama dalam kehidupan masyarakat.
Sebab, di tengah keberagaman Kabupaten Bekasi, kerukunan bukan hanya kebutuhan, tetapi modal sosial untuk menjaga persatuan dan membangun daerah yang damai, harmonis, serta saling menghargai.
Ketika perempuan bergerak merawat kerukunan, perbedaan tidak lagi menjadi jarak—melainkan jembatan menuju persaudaraan.[]
