LEBAK, MEDIAGANAS.ID — Lantunan ayat suci Al-Qur’an, gema zikir, dan doa bersama memenuhi halaman SDN 2 Kertaraharja, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak, Senin (28/9).
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah itu berlangsung khidmat, tetapi pesan yang dibawa jauh melampaui sebuah seremoni keagamaan.
Di balik kemeriahan Tablig Akbar, keluarga besar SDN 2 Kertaraharja meneguhkan satu pesan penting: mengenal Rasulullah SAW bukan hanya untuk diingat, tetapi untuk diteladani melalui akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Desa Kertaraharja Ipan Hariyanto yang akrab disapa Sapong, Ketua K3S Banjarsari, Ketua Ranting PGRI Kertaraharja, para tokoh masyarakat, dewan guru, serta ratusan orang tua dan wali murid.
Rangkaian acara diawali pembacaan hadorot dan tawasul yang dipimpin KH Zamhani. Doa bersama tersebut menjadi ungkapan penghormatan sekaligus doa bagi para leluhur, guru dan orang tua yang telah wafat.
Suasana semakin syahdu ketika Muhamad Hasbi melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Gema zikir La ilaha illallah kemudian mengisi halaman sekolah, membawa seluruh peserta larut dalam suasana religius.
Maulid sebagai Pendidikan Karakter
Kepala Desa Kertaraharja Ipan Hariyanto mengapresiasi konsistensi SDN 2 Kertaraharja dalam menggelar kegiatan keagamaan tersebut.
Menurutnya, Maulid Nabi memiliki makna lebih luas daripada sekadar agenda tahunan.
Kegiatan tersebut dapat menjadi ruang untuk memperkuat pendidikan karakter sekaligus menanamkan nilai-nilai agama kepada generasi muda.
“Saya sangat mengapresiasi kegiatan Maulid Nabi yang digelar di SDN 2 Kertaraharja. Harapan saya bukan hanya di SDN 2 saja, tetapi bisa juga dilaksanakan di SD-SD lain yang ada di wilayah Desa Kertaraharja,” ujar Ipan Hariyanto.
Ia juga mengingatkan para orang tua agar tidak menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah.
Pendidikan formal, kata dia, perlu berjalan beriringan dengan pendidikan agama di lingkungan keluarga dan pesantren.
Sebab, pembentukan karakter anak tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui keteladanan yang mereka lihat setiap hari.
Sekolah Ingin Akhlak, Bukan Sekadar Pengetahuan
Kepala SDN 2 Kertaraharja, Erna, mengatakan peringatan Maulid Nabi menjadi momentum bagi sekolah untuk mengajak peserta didik mengenal, mencintai dan meneladani Rasulullah SAW.
“Alhamdulillah, kegiatan Maulid Nabi ini dapat kembali terlaksana. Kami berharap melalui kegiatan ini anak-anak tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga semakin memahami pentingnya akhlak, sopan santun dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Erna.
Ia berharap pesan-pesan keagamaan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut tidak berhenti ketika acara selesai.
Nilai kejujuran, kesantunan, kepedulian dan sikap menghormati orang lain diharapkan menjadi kebiasaan yang tumbuh dalam keseharian siswa, baik di sekolah, keluarga maupun lingkungan masyarakat.
Tiga Tahun Berturut-turut
Ketua Panitia Pelaksana, H. Gilang Nugraha, mengungkapkan rasa syukur karena Maulid Nabi di SDN 2 Kertaraharja dapat dilaksanakan selama tiga tahun berturut-turut.
Menurutnya, kesinambungan kegiatan tersebut tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, terutama para orang tua dan wali murid.
“Alhamdulillah, tiga tahun berturut-turut SD kita telah melaksanakan acara Maulid Nabi. Ini berkat kerja sama semua stakeholder, terutama para orang tua wali murid. Mudah-mudahan amal kebaikan ibu bapak semua menjadi ladang pahala,” kata Gilang.
Tahun ini, panitia mengangkat tema “Meneladani Akhlak Nabi Muhammad SAW dalam Kehidupan Sehari-hari.”
Tema tersebut sengaja dipilih agar peringatan Maulid tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan memiliki dampak nyata terhadap perilaku peserta didik dan seluruh keluarga besar sekolah.
“Tujuan kami adalah agar kita semua dapat meneladani akhlak Rasulullah dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Santunan Anak Yatim, Wujud Kepedulian
Semangat berbagi juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Panitia memberikan santunan kepada sejumlah anak yatim yang bersumber dari para donatur.
Santunan tersebut diserahkan langsung oleh Kepala SDN 2 Kertaraharja, Erna.
Bagi panitia, kepedulian terhadap anak yatim menjadi bagian penting dari pesan keteladanan Rasulullah SAW—bahwa kecintaan kepada Nabi juga dapat diwujudkan melalui kepedulian sosial dan perhatian terhadap sesama.
Kiyai Guludug: Akhlak Harus Menjadi Kebiasaan
Memasuki puncak acara, perhatian jamaah tertuju pada tausiyah yang disampaikan Kiyai Madsuri, yang akrab disapa Kiyai Guludug.
Dalam ceramahnya, Kiyai Guludug mengajak seluruh jamaah menjadikan Rasulullah SAW sebagai suri teladan dalam menjalani kehidupan.
Kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, menurutnya, tidak cukup hanya diucapkan atau diwujudkan melalui peringatan Maulid. Kecintaan tersebut harus terlihat dalam perilaku.
Mulai dari tutur kata, sopan santun, kejujuran, kepedulian hingga cara memperlakukan orang lain.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan dalam pendidikan anak. Pengetahuan tanpa akhlak akan kehilangan arah, sementara pendidikan karakter membutuhkan proses panjang dan keteladanan yang terus-menerus.
Karena itu, penyempurnaan akhlak perlu dimulai sejak dini. Anak-anak tidak hanya diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas secara akademik, tetapi juga santun, beradab, jujur dan mampu menghargai sesama.
Dari Halaman Sekolah untuk Kehidupan
Peringatan Maulid Nabi di SDN 2 Kertaraharja akhirnya tidak sekadar meninggalkan suasana khidmat selama acara berlangsung.
Ada pesan yang hendak dibawa pulang oleh setiap peserta: Maulid bukan tentang seberapa meriah sebuah peringatan, tetapi seberapa jauh keteladanan Rasulullah SAW hadir dalam kehidupan.
Dari lingkungan sekolah, nilai-nilai tersebut diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan. Dari keluarga, nilai itu diperkuat. Dan di tengah masyarakat, akhlak mulia menjadi cermin generasi yang sedang dipersiapkan untuk masa depan.
Dengan semangat meneladani Rasulullah SAW, keluarga besar SDN 2 Kertaraharja berharap peringatan Maulid Nabi 1448 Hijriah menjadi titik penguat pendidikan karakter—agar ilmu berjalan bersama akhlak, kecerdasan tumbuh bersama kesantunan, dan generasi muda tidak hanya pintar, tetapi juga beradab. (Iwan H)
