Maulid Nabi di Batu Apung Jadi Momentum Persatuan, Rudi Rochman Ajak Warga Teladani Akhlak Rasulullah

 

BEKASI, MEDIAGANAS.ID – Seminggu menjelang pencoblosan Pilkades Serentak 2026, suasana Desa Karangasih, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, justru dipenuhi pesan tentang persatuan.

Dari Batu Apung, Desa Karangasih, gema Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar Majelis Taklim (MT) Al-Hikmah, Minggu (13/9/2026), membawa pesan yang melampaui sekadar peringatan hari besar keagamaan: berbeda pilihan politik tidak boleh menjadi alasan untuk memutus tali persaudaraan.

Peringatan Maulid berlangsung khidmat dan penuh keakraban. Jamaah MT Al-Hikmah bersama masyarakat sekitar hadir dalam suasana religius.

Sejumlah jamaah dari berbagai majelis taklim yang tersebar di wilayah Desa Karangasih juga turut memadati kegiatan tersebut.

Kehadiran jamaah dari berbagai penjuru Karangasih memperlihatkan bahwa ruang-ruang keagamaan masih menjadi titik temu masyarakat untuk merawat silaturahmi, memperkuat persaudaraan, sekaligus meneguhkan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Calon Kepala Desa Karangasih periode 2026–2034, Rudi Rochman, hadir bersama istrinya, Iis Sobariah.

Kehadiran keduanya menjadi bagian dari silaturahmi dengan jamaah dan masyarakat yang mengikuti rangkaian peringatan Maulid Nabi.

Keteladanan Rasulullah Menjadi Pesan Utama

Dalam tausiyahnya, Ustadz Nursan Nurhidayah mengajak jamaah menjadikan kehidupan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam membangun hubungan antarsesama.

Akhlak, persaudaraan, persatuan, kepedulian dan sikap saling menghormati menjadi pesan penting yang disampaikan kepada jamaah.

Pesan tersebut terasa semakin relevan karena masyarakat Karangasih kini berada di penghujung tahapan menuju Pilkades Serentak 2026 Kabupaten Bekasi.

Minggu, 20 September 2026, warga Karangasih akan menggunakan hak pilih untuk menentukan sosok yang dipercaya memimpin desa selama periode 2026–2034.

Namun, sebelum memasuki bilik suara, masyarakat diingatkan bahwa pilihan politik hanyalah bagian dari proses demokrasi.

Setelah pencoblosan selesai, seluruh warga tetap akan kembali hidup berdampingan sebagai tetangga, saudara, dan bagian dari satu desa yang sama.

Pilihan Boleh Berbeda, Persaudaraan Harus Tetap Utuh

Pilkades merupakan momentum penting bagi masa depan desa. Karena itu, perbedaan pilihan merupakan sesuatu yang wajar dalam demokrasi.

Yang tidak boleh hilang adalah rasa saling menghormati.

Jangan sampai perbedaan pilihan melahirkan permusuhan. Jangan sampai pesta demokrasi meninggalkan luka di tengah masyarakat.

Dan jangan sampai kepentingan sesaat membuat hubungan persaudaraan yang telah dibangun bertahun-tahun menjadi renggang.

Karangasih bukan sekadar tempat berlangsungnya Pilkades. Karangasih adalah rumah bersama.

Di rumah yang sama, warga boleh memiliki pandangan berbeda. Namun, ketika kepentingan desa menjadi tujuan bersama, seluruh perbedaan harus mampu ditempatkan secara dewasa.

Karena itu, semangat Maulid Nabi Muhammad SAW di Batu Apung seakan menjadi pengingat bahwa kepemimpinan yang baik bukan hanya berbicara tentang kemenangan, tetapi juga tentang keteladanan, akhlak, kepedulian dan kemampuan merangkul seluruh masyarakat.

Setelah Pilkades, Karangasih Tetap Satu

Kehadiran Rudi Rochman bersama Iis Sobariah di tengah jamaah juga memperlihatkan pentingnya membangun komunikasi dan silaturahmi dengan berbagai elemen masyarakat.

Namun, lebih jauh dari dinamika politik yang sedang berlangsung, terdapat pesan besar yang perlu dijaga bersama: siapa pun yang nantinya memperoleh amanah dari masyarakat, Karangasih tetap harus berdiri sebagai satu kesatuan.

Keamanan, kerukunan, kebersihan, kesejahteraan dan kemajuan desa bukan hanya tanggung jawab seorang kepala desa. Semua itu membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat.

Semangat gotong royong harus tetap hidup setelah suara dihitung dan hasil Pilkades diumumkan.

Sebab, kemenangan sejati sebuah desa bukan ketika satu pihak mengalahkan pihak lainnya, melainkan ketika seluruh masyarakat mampu kembali bergandengan tangan setelah perbedaan pilihan berakhir.

Dari Batu Apung, pesan itu menggema kuat: berbeda pilihan bukan berarti berbeda persaudaraan.

Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum untuk meneguhkan kembali nilai tersebut. Dengan meneladani Rasulullah SAW, masyarakat Karangasih diharapkan mampu menyambut Pilkades 2026 secara damai, bermartabat dan penuh kedewasaan.

Karangasih boleh berbeda pilihan, tetapi Karangasih harus tetap satu.

Satu desa, satu persaudaraan, dan satu tekad untuk menjaga masa depan Karangasih bersama.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *