PANDEGLANG, MEDIAGANAS.ID – Ketika hujan tak kunjung turun, setiap tetes air berubah menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.
Di Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang, kemarau panjang membuat warga menggali dasar sungai, mengantre berjam-jam, hingga terpaksa menggunakan air keruh untuk bertahan hidup.
Hingga Kamis (27/8/2026), krisis air bersih masih dirasakan sejumlah warga. Sungai-sungai yang sebelumnya menjadi sumber kehidupan menyusut drastis, sementara sumur warga banyak yang mengering.
Sungai Keruh Jadi Pilihan Terakhir
Di Desa Cikeusik, kondisi paling memprihatinkan terlihat di Sungai Cikeusik. Aliran air yang tersisa tampak pekat dan keruh.
Namun, karena tidak memiliki pilihan lain, warga tetap menyedotnya menggunakan mesin pompa untuk mandi dan mencuci.
“Kami terpaksa pakai air sungai karena sudah tidak ada sumber lain. Kondisinya memang sangat keruh, tapi mau bagaimana lagi,” ungkap Ida, warga Desa Cikeusik.
Penggunaan air tersebut mulai menimbulkan kekhawatiran. Sejumlah warga mengeluhkan gatal dan iritasi kulit setelah menggunakannya.
Sementara untuk kebutuhan minum dan memasak, warga terpaksa membeli air galon. Kondisi ini semakin membebani pengeluaran keluarga di tengah sulitnya mendapatkan air.
Menggali Air di Dasar Sungai
Situasi tak kalah sulit terjadi di Kampung Kiara Jangkung, Desa Sukaseneng. Sungai yang biasanya menjadi sumber air kini kering dan menyisakan tanah yang retak.
Warga akhirnya bergotong royong menggali sumur darurat sekitar satu meter di dasar sungai.
Dari lubang sederhana itu, air merembes perlahan dan menjadi tumpuan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bukan hanya warga Kiara Jangkung yang mengandalkan sumur tersebut. Warga dari desa sekitar juga datang untuk mendapatkan air sehingga antrean semakin panjang.
“Antreannya panjang karena cuma sumur ini yang masih keluar air. Ini kami buat bareng-bareng. Kalau telat sedikit, air sudah habis dan harus nunggu lagi berjam-jam,” tutur Usri, warga Kampung Kiara Jangkung.
Tak jarang, warga harus kembali dengan membawa ember kosong karena tidak kebagian air.
Warga Menunggu Bantuan Air Bersih
Krisis air bersih tersebut menjadi gambaran beratnya dampak kemarau panjang bagi masyarakat di wilayah selatan Pandeglang. Air yang sebelumnya mudah diperoleh kini harus dicari, digali, dan diantrekan.
Warga berharap pemerintah daerah bersama BPBD segera turun tangan dengan menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah yang terdampak.
Bantuan dinilai mendesak untuk mencegah krisis air berkembang menjadi persoalan kesehatan, terutama bagi anak-anak dan warga lanjut usia.
“Bagi kami sekarang, setetes air itu sangat berharga. Kami hanya butuh air bersih untuk bisa bertahan sampai hujan datang,” harap Ida.
Di tengah kemarau yang belum berakhir, harapan warga Cikeusik kini sederhana: bukan meminta air berlimpah, melainkan memastikan setiap keluarga memiliki cukup air bersih untuk bertahan hingga musim hujan kembali. (Iwan H)
