Tiga Majelis Taklim Bersatu, Kampung Baru Hidupkan Tradisi Berbagi untuk Anak Yatim

 

BEKASI, MEDIAGANAS.ID – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan desa dan dinamika politik menjelang Pilkades Serentak 2026, Kampung Baru, Desa Karangasih, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, menghadirkan cerita yang berbeda.

Bukan tentang persaingan, bukan pula tentang perbedaan pilihan. Pada Minggu (9/8/2026), kaum ibu dari tiga majelis taklim justru menyatukan langkah untuk menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak yatim.

Majelis Taklim Al-Muawwanah, Majelis Taklim Al-Maghfiroh, dan Majelis Taklim Al-Akbar berkolaborasi menggelar santunan anak yatim secara akbar. Kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa tradisi berbagi masih tumbuh kuat dan dirawat bersama oleh masyarakat.

Tiga majelis taklim itu masing-masing dipimpin Ustadzah Nining Runingsih sebagai Ketua Majelis Taklim Al-Muawwanah, Ustadzah Masitoh sebagai Ketua Majelis Taklim Al-Maghfiroh, serta Ustadzah Hajjah Neneng Jumasih sebagai Ketua Majelis Taklim Al-Akbar.

Kegiatan berlangsung di lokasi yang berdekatan dengan Posko Pemenangan Rudi Rochman Center. Sejumlah unsur tim pemenangan calon Kepala Desa Karangasih Rudi Rochman turut hadir memberikan dukungan dan apresiasi terhadap kegiatan sosial tersebut.

Namun, santunan ini bukan kegiatan kampanye. Kegiatan sepenuhnya merupakan agenda sosial yang digagas dan dilaksanakan oleh gabungan tiga majelis taklim yang secara rutin menjaga tradisi santunan anak yatim di Kampung Baru.

Sekjen KOMPLADA (Komunitas Musisi dan Penyanyi Lawas Dangdut) Kabupaten Bekasi, Bento, bersama tim pemenangan Rudi Rochman, mengapresiasi konsistensi kaum ibu majelis taklim yang terus mempertahankan tradisi berbagi tersebut.

“Kami sangat bersyukur setiap tahun ibu-ibu majelis taklim di Kampung Baru dapat mengadakan acara santunan anak yatim secara bersama-sama. Ini merupakan kegiatan yang sangat baik dan patut terus dijaga,” ujar Bento.

Bento juga menyampaikan doa kepada seluruh pengurus majelis taklim dan para donatur yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk membantu anak-anak yatim.

“Semoga ibu-ibu majelis taklim di Kampung Baru dan seluruh donatur yang telah memberikan sebagian hartanya senantiasa diberikan kesehatan, dilimpahkan rezekinya dan selalu berada dalam lindungan Allah SWT. Aamiin,” tuturnya.

Ketika Majelis Taklim Menjadi Kekuatan Sosial

Apa yang dilakukan tiga majelis taklim di Kampung Baru menunjukkan bahwa majelis taklim bukan sekadar tempat berkumpul untuk memperdalam ilmu agama.

Di tengah masyarakat, majelis taklim juga dapat tumbuh menjadi kekuatan sosial yang mampu menggerakkan kepedulian, mempererat silaturahmi dan menghadirkan manfaat secara langsung.

Majelis Taklim Al-Muawwanah, Al-Maghfiroh dan Al-Akbar membuktikan hal tersebut dengan menyatukan langkah dalam sebuah kegiatan yang sederhana, tetapi memiliki makna kemanusiaan yang besar.

Peran kaum perempuan pun terlihat begitu kuat. Dengan kebersamaan dan kepedulian, mereka ikut mengambil bagian dalam memastikan anak-anak yatim di lingkungan sekitar mendapatkan perhatian dan kebahagiaan.

Tradisi semacam ini menjadi modal sosial yang sangat berharga bagi kehidupan masyarakat desa.

Berbeda Pilihan, Tetap Bersaudara

Kegiatan santunan tersebut juga memiliki makna tersendiri di tengah suasana menjelang Pilkades Serentak 2026 Kabupaten Bekasi.

Perbedaan pilihan politik merupakan bagian dari demokrasi. Namun, perbedaan tersebut tidak semestinya menghapus tradisi gotong royong, kepedulian dan persaudaraan yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Karena itu, kehadiran unsur tim pemenangan Rudi Rochman dalam kegiatan tersebut ditempatkan sebagai bentuk apresiasi terhadap kegiatan sosial masyarakat, bukan sebagai bagian dari agenda kampanye.

Pesan yang muncul justru sederhana: masyarakat boleh berbeda pilihan, tetapi tetap bisa duduk bersama dalam kebaikan.

Santunan anak yatim menjadi salah satu ruang yang mempertemukan kembali masyarakat dalam semangat kemanusiaan.

Merawat Tradisi, Menanam Kepedulian

Bagi masyarakat Kampung Baru, santunan anak yatim bukan sekadar kegiatan seremonial yang digelar setahun sekali.

Di balik kegiatan tersebut terdapat tradisi panjang tentang berbagi dan saling menguatkan.

Kepedulian tidak selalu harus hadir dalam bentuk besar. Kadang, ia tumbuh dari langkah sederhana: menyisihkan sebagian rezeki, memberikan perhatian dan menghadirkan senyum bagi mereka yang membutuhkan.

Anak-anak yatim yang hadir dalam kegiatan itu menjadi pengingat bahwa membangun desa tidak cukup hanya dengan berbicara tentang jalan, saluran air, fasilitas umum atau pembangunan fisik.

Ada pembangunan manusia yang juga harus diperhatikan.

Pendidikan, kasih sayang, perhatian dan kesempatan untuk tumbuh merupakan bagian penting dalam menyiapkan masa depan generasi muda Karangasih.

Di sinilah kegiatan sosial seperti santunan anak yatim menemukan maknanya.

Ia tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga mengirimkan pesan bahwa masih ada masyarakat yang peduli dan bersedia berjalan bersama.

Dari Kampung Baru untuk Karangasih

Kebersamaan tiga majelis taklim di Kampung Baru akhirnya menghadirkan sebuah pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar kegiatan santunan.

Ada kekuatan masyarakat yang tumbuh ketika orang-orang bersedia menyatukan langkah untuk sebuah kebaikan.

Majelis taklim menjadi penggerak. Para donatur menjadi bagian dari kekuatan berbagi. Masyarakat menjadi penjaga tradisi gotong royong.

Sementara anak-anak yatim menjadi alasan mengapa kepedulian itu harus terus dirawat.

Bento bersama tim pemenangan Rudi Rochman berharap tradisi positif tersebut dapat dipertahankan dan dikembangkan sehingga semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk berbagi.

Sebab, kemajuan sebuah desa tidak hanya terlihat dari megahnya pembangunan fisik.

Kemajuan juga tercermin dari seberapa kuat masyarakatnya menjaga kepedulian, persaudaraan dan solidaritas.

Dari Kampung Baru, pesan itu kembali hadir.

Tiga majelis taklim berbeda, satu semangat yang sama: menghadirkan kebahagiaan bagi anak-anak yatim sekaligus merawat tradisi berbagi.

Sebuah pelajaran sederhana dari tengah masyarakat: ketika kebaikan menjadi titik temu, perbedaan tidak lagi menjadi jarak, melainkan kekuatan untuk bersama-sama membangun Karangasih yang lebih peduli dan berdaya.[*]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *