MALINGPING, MEDIAGANAS.ID – Lantunan sholawat yang menggema di Mushola Riyadhul Awamil, Kampung Cisonggom, Desa Kadujajar, Kecamatan Malingping, Lebak, Minggu (23/8/2026), berubah menjadi suasana haru ketika 30 anak yatim piatu menerima santunan dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah.
Di tengah kekhidmatan jamaah mengenang kelahiran Rasulullah SAW, kegiatan tersebut menghadirkan pesan yang jauh lebih dalam: cinta kepada Nabi bukan hanya diucapkan melalui sholawat, tetapi juga diwujudkan dalam kepedulian kepada sesama.
Sejak pagi, warga berdatangan memenuhi mushola. Mengenakan pakaian serba putih, jamaah mengikuti rangkaian acara mulai dari pembacaan ayat suci Al-Qur’an, lantunan sholawat, hingga pembacaan riwayat perjalanan kehidupan Nabi Muhammad SAW.
Suasana semakin khidmat ketika tausiyah disampaikan KH Aang Fauzi, yang akrab disapa Kyai Bentar Muda.
Mengangkat tema “Meneladani Akhlak Nabi Muhammad SAW untuk Menciptakan Masyarakat yang Harmonis dan Peduli”, KH Aang Fauzi mengajak masyarakat menjadikan peringatan Maulid sebagai momentum memperkuat akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, keteladanan Rasulullah SAW harus tercermin dalam sikap nyata, mulai dari kejujuran, amanah, kepedulian, hingga kasih sayang terhadap sesama.
“Keteladanan Rasulullah bukan hanya untuk dikenang, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku kita sehari-hari. Mulai dari kejujuran, kepedulian, saling membantu dan menyayangi sesama,” pesannya.
Santunan Menjadi Puncak Kebersamaan
Puncak acara berlangsung saat panitia menyerahkan santunan kepada 30 anak yatim piatu dari wilayah Kampung Cisonggom.
Santunan diberikan dalam bentuk uang tunai dan paket sembako. Namun, ada sisi lain yang membuat momen tersebut terasa semakin menyentuh.
Seluruh bantuan berasal dari seorang dermawan yang memilih untuk merahasiakan identitasnya.
Melalui panitia, dermawan tersebut hanya menitipkan harapan agar bantuan yang diberikan dapat memberikan manfaat bagi anak-anak yatim sekaligus menjadi amal jariyah.
Pesan tersebut juga menjadi pengingat agar anak-anak yatim tidak dibiarkan merasa sendiri, kehilangan perhatian, maupun menghadapi kehidupan tanpa dukungan dari lingkungan sekitarnya.
Nilai itulah yang kemudian terasa kuat dalam peringatan Maulid di Cisonggom. Bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak berhenti pada seremonial, tetapi harus hadir melalui tindakan nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Ketua RT Kampung Cisonggom, Surja, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan tersebut, terutama dermawan yang telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk anak-anak yatim.
“Kami mengapresiasi setinggi-tingginya kepada hamba Allah yang telah menyisihkan rezekinya untuk anak-anak yatim. Semoga Allah membalas dengan pahala yang berlipat,” ujarnya.
Apresiasi serupa disampaikan Ketua Pemuda Kampung Cisonggom, Ade Kucay, dan Ketua Panitia Maulid, Ondon.
Keduanya menilai kekompakan warga menjadi salah satu kunci sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar, tertib, dan penuh kebersamaan.
Dari Mushola Sederhana, Tumbuh Pesan Besar
Rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kemudian ditutup dengan doa bersama.
Namun, suasana haru masih terasa ketika anak-anak yatim menerima santunan dari panitia dan jamaah yang hadir. Senyum dan doa yang terucap seolah menjadi gambaran sederhana tentang makna berbagi.
Bagi masyarakat Kampung Cisonggom, Maulid Nabi tahun ini bukan sekadar agenda tahunan untuk memperingati kelahiran Rasulullah SAW.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan, menumbuhkan kepedulian, dan menanamkan nilai kasih sayang kepada generasi muda.
Warga berharap semangat meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW tidak berhenti setelah acara berakhir, tetapi terus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dari sebuah mushola sederhana di Kampung Cisonggom, pesan itu kembali digaungkan: ketika cinta kepada Rasulullah diwujudkan dalam kepedulian kepada sesama, kebaikan akan selalu menemukan jalan untuk tumbuh dan diwariskan. (Ridwan Habibi)
