Paket MBG Tak Disentuh Siswa SMAN 1 Cibeber, JBB Lebak Soroti Potensi Pemborosan Anggaran

 

LEBAK, MEDIAGANAS.ID – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mendapat sorotan.

Kali ini, perhatian tertuju pada paket makanan yang disediakan untuk siswa di SMAN 1 Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten.

Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Jawara Banten Bersatu (JBB) Kabupaten Lebak menemukan adanya paket MBG yang disebut tidak tersentuh oleh siswa.

Dari satu paket makanan, hanya buah apel yang diambil, sementara menu lainnya dibiarkan.

Temuan tersebut dinilai perlu menjadi bahan evaluasi serius. Sebab, program yang menggunakan anggaran negara tersebut tidak hanya dituntut mampu mendistribusikan makanan, tetapi juga memastikan makanan benar-benar diterima, dikonsumsi, dan memberikan manfaat bagi para siswa.

Wakil Ketua JBB Kabupaten Lebak, Aan Raipudin, meminta Badan Gizi Nasional (BGN) bersama pihak terkait tidak mengabaikan temuan tersebut.

“Dengan adanya temuan menu MBG di SMAN 1 Cibeber yang hanya diambil buahnya saja, ini harus dievaluasi. Kami berharap BGN bersama koordinator lapangan melakukan evaluasi berkala mengenai skema menu, kesesuaian rasa, dan tingkat penerimaan siswa agar tidak terjadi pemborosan anggaran,” ujar Aan, Rabu (3/9/2026).

Bukan Sekadar Makanan Tersalurkan

Menurut Aan, indikator keberhasilan MBG tidak semata-mata dilihat dari jumlah paket yang berhasil dibagikan kepada siswa.

Lebih dari itu, kata dia, makanan yang disediakan harus memiliki tingkat penerimaan yang baik sehingga benar-benar dikonsumsi oleh penerima manfaat.

“Program MBG ini merupakan langkah baik pemerintah untuk memenuhi kebutuhan gizi pelajar. Tetapi kualitas menu dan selera siswa juga harus diperhatikan,” katanya.

Ia menilai evaluasi secara berkala penting dilakukan untuk mengetahui makanan seperti apa yang disukai siswa, sekaligus memastikan kandungan gizi tetap sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Jika makanan yang telah disiapkan justru banyak tersisa, kondisi tersebut menurutnya patut menjadi perhatian karena berpotensi menimbulkan pemborosan.

JBB Ajukan Dua Rekomendasi

Untuk mencegah persoalan serupa kembali terjadi, JBB Kabupaten Lebak menyampaikan dua rekomendasi kepada BGN dan pihak sekolah.

Pertama, melakukan uji kelayakan menu sebelum didistribusikan.

JBB mengusulkan agar menu yang akan dibagikan terlebih dahulu dicicipi dan diperiksa oleh kepala dapur, pengawas gizi, asisten lapangan hingga guru penanggung jawab (PIC) di sekolah.

Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan makanan dari sisi rasa maupun kelayakannya sebelum sampai kepada siswa.

Kedua, memberikan label batas waktu konsumsi pada setiap wadah makanan.

Menurut JBB, setiap wadah atau ompreng MBG sebaiknya dilengkapi informasi waktu makanan tersebut selesai dimasak dan batas waktu konsumsinya.

“Jika sudah melewati 4 jam, makanan sudah tidak aman dan tidak boleh dimakan. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” ujar Aan.

Jangan Sampai Niat Baik Berujung Mubazir

JBB menegaskan bahwa pihaknya tidak bermaksud mempersoalkan keberadaan program MBG. Sebaliknya, kritik tersebut disampaikan sebagai bentuk perhatian agar program pemenuhan gizi bagi pelajar dapat berjalan lebih efektif.

Evaluasi menu, rasa, distribusi hingga pengawasan konsumsi dinilai menjadi bagian penting agar setiap paket makanan yang dibiayai negara benar-benar memberikan manfaat.

Program MBG merupakan langkah strategis dalam mendukung pemenuhan gizi pelajar. Namun, tanpa evaluasi dan pengawasan yang berkelanjutan, makanan yang seharusnya menjadi asupan bergizi justru berisiko berakhir sebagai makanan tersisa.

Karena itu, temuan di SMAN 1 Cibeber diharapkan menjadi momentum bagi pihak terkait untuk memperkuat evaluasi, sehingga semangat menghadirkan makanan bergizi gratis benar-benar sampai pada tujuan: bergizi, disukai siswa, dikonsumsi, dan tidak mubazir. (Iwan H)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *