Breaking News
Beranda » DAERAH
DAERAH

Sempat Diwarnai Polemik Izin, Bedolan Pamarayan 2026 Tetap Meledak! Ribuan Warga Serbu Bendung, Bupati Serang Ingatkan Bahaya

Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah membuka Festival Bedolan Pamarayan 2026 dengan menaburkan ikan secara simbolis di Bendung Pamarayan Baru, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (17/10/2026).

 

MEDIAGANAS.ID, SERANG – Polemik izin, larangan pengurasan bendung, hingga kekhawatiran ancaman longsor sempat membayangi tradisi legendaris Bedolan Pamarayan 2026.

Namun, dinamika itu tak menyurutkan antusiasme masyarakat. Ribuan warga tetap menyerbu kawasan Bendung Pamarayan Baru, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (17/10/2026), demi berburu ikan dalam tradisi yang telah mengakar kuat di tengah kehidupan masyarakat setempat.

Sejak kegiatan dimulai, warga dari Pamarayan, Cikesal, dan berbagai wilayah sekitarnya memadati kawasan bendung.

Berbekal jala dan tanggok, mereka berbondong-bondong mengikuti tradisi tahunan yang bukan sekadar ajang menangkap ikan, melainkan juga simbol kebersamaan, pelestarian budaya, dan penggerak ekonomi masyarakat desa.

Bupati Serang, Hj. Ratu Rachmatuzakiyah, S.Pd., M.M., hadir membuka Festival Bedolan Pamarayan 2026. Namun, ada satu hal yang membedakan pelaksanaan tahun ini dari tahun-tahun sebelumnya: Bedolan tetap digelar, tetapi tanpa pengurasan total bendung.

Polemik Izin Mencuat, Pengurasan Bendung Dilarang

Di balik kemeriahan acara, pelaksanaan Bedolan Pamarayan tahun ini menyimpan dinamika yang tidak sederhana.

Berdasarkan surat Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWS C3) Nomor HM0504/B/Bbws3/2026/887 tertanggal 5 Oktober 2026, kegiatan semula dijadwalkan berlangsung pada 10 Oktober 2026 dengan sejumlah persyaratan.

Salah satu ketentuan yang ditegaskan BBWS C3 adalah larangan melakukan pengurasan bendung serta tidak membuka pintu Bendung Pamarayan.

Pertimbangannya bukan tanpa alasan. Kondisi musim kemarau membuat ketersediaan air harus diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan irigasi. Artinya, pelaksanaan tradisi masyarakat harus tetap memperhitungkan kepentingan pengelolaan air.

Dinamika kembali mengemuka pada 7 Oktober 2026. BBWS C3 menerbitkan berita acara setelah menerima aspirasi warga Desa Sangiang, Maman Suryaman, yang menyampaikan kekhawatiran mengenai potensi longsor akibat abrasi apabila pintu bendung dibuka.

Situasi tersebut membuat pelaksanaan Bedolan tahun ini harus menyesuaikan ketentuan yang berlaku. Tradisi tetap berjalan, tetapi pengurasan total seperti pelaksanaan sebelumnya tidak dilakukan.

Keputusan itu menjadi titik penting: bagaimana tradisi yang dinantikan masyarakat tetap lestari tanpa mengabaikan keselamatan lingkungan dan kebutuhan pengelolaan air.

Ribuan Warga Membludak, Bupati Tegaskan Keselamatan Bukan Taruhan

Padatnya pengunjung menjadi pemandangan utama di kawasan bendung. Di tengah semangat warga berburu ikan, Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah mengingatkan bahwa kemeriahan acara tidak boleh membuat masyarakat lengah terhadap risiko keselamatan.

Ia meminta warga mengutamakan keselamatan diri dan keluarga, terlebih bagi mereka yang membawa anak-anak ke lokasi kegiatan.

“Yang lebih penting adalah menjaga keselamatan jiwa, menjaga keselamatan diri. Saya lihat dari ujung bendungan sampai sini sudah sangat padat sekali. Kalau bawa anak-anak, tolong dijaga keluarganya masing-masing,” ujar Ratu Zakiyah.

Pesan tersebut menjadi sorotan penting di tengah padatnya warga yang berkumpul untuk menangkap ikan. Dalam situasi seperti itu, kewaspadaan setiap pengunjung dan perhatian terhadap anggota keluarga menjadi hal yang tidak bisa ditawar.

Bupati juga mengingatkan masyarakat agar tidak meninggalkan sampah setelah kegiatan berakhir.

“Kalau di awal kita masuk lingkungan Bendungan Pamarayan dengan bersih, maka setelah kegiatan ini juga kondisinya harus bersih. Kalau bawa sampah, sampahnya di-keep lagi, jangan dibuang di sekitar bendungan,” tegasnya.

Pesan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa tradisi tahunan tidak cukup hanya berlangsung meriah. Kebersihan lingkungan dan tanggung jawab pengunjung juga menentukan keberlanjutan kegiatan pada masa mendatang.

Sejumlah unsur turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya Koordinator Lapangan Bendungan Pamarayan, Kasat Intelkam Polres Serang, Camat Pamarayan, Camat Cikesal, Danramil Pamarayan, Kapolsek Cikesal, ketua pelaksana yang juga Kepala Desa Pamarayan, serta puluhan kepala desa dari sejumlah wilayah di Kabupaten Serang.

Bukan Cuma Berburu Ikan, Bedolan Jadi Penggerak Ekonomi Desa

Di balik riuhnya warga memburu ikan, Bedolan Pamarayan juga menyimpan potensi ekonomi yang tidak kecil.

Kehadiran ribuan pengunjung membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menawarkan berbagai produk kepada masyarakat.

Keramaian yang tercipta menjadi kesempatan bagi pedagang lokal untuk meningkatkan penjualan sekaligus memperluas jangkauan usaha mereka.

Bupati Ratu Zakiyah mengapresiasi BBWS C3 yang telah mendengarkan aspirasi masyarakat dan panitia sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku.

Ia berharap Bedolan Pamarayan tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat sekitar.

“Alhamdulillah banyak pelaku UMKM di sini. Semoga ini dapat menggerakkan perekonomian, khususnya di wilayah desa,” ungkapnya.

Harapan tersebut menempatkan Bedolan sebagai lebih dari sekadar tradisi menangkap ikan. Kegiatan ini berpotensi menjadi ruang pertemuan masyarakat, promosi produk lokal, sekaligus penggerak ekonomi berbasis budaya.

Tabur Ikan Jadi Penanda Dimulainya Festival

Puncak pembukaan berlangsung ketika Bupati Serang secara resmi membuka Festival Bedolan Pamarayan 2026 dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim.

Pembukaan ditandai dengan penaburan ikan secara simbolis ke kawasan bendung. Aksi tersebut langsung disambut sorak gembira warga yang telah bersiap dengan jala dan tanggok masing-masing.

Dalam hitungan singkat, suasana semakin semarak. Warga berupaya mendapatkan ikan, sementara tradisi yang telah lama dinantikan itu kembali menghadirkan kebersamaan di tengah masyarakat.

Namun, di balik euforia tersebut, pesan Bupati kembali mengemuka. Ia menegaskan bahwa ikan bukanlah sesuatu yang sepadan dengan risiko kehilangan nyawa.

“Di ujung ngabur ikan, tidak ada ikan yang berharga, yang berharga adalah keselamatan diri,” pesannya.

Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa keberhasilan Bedolan tidak semata-mata diukur dari banyaknya ikan yang diperoleh atau besarnya jumlah pengunjung, melainkan juga dari kemampuan semua pihak menjaga keselamatan selama kegiatan berlangsung.

Tradisi Bertahan, Keselamatan dan Lingkungan Jadi Ujian

Bedolan Pamarayan 2026 membuktikan bahwa tradisi yang berakar kuat di tengah masyarakat tetap memiliki daya tarik besar, sekalipun pelaksanaannya harus menyesuaikan berbagai batasan teknis dan pertimbangan keselamatan.

Tanpa pengurasan total bendung, kegiatan tetap berlangsung meriah. Warga mendapatkan ruang untuk mempertahankan tradisi, pelaku UMKM memperoleh peluang usaha, dan pemerintah daerah bersama pihak terkait memiliki kesempatan memperkuat kolaborasi dalam pengelolaan kegiatan masyarakat.

Meski demikian, kemeriahan tersebut juga membawa pekerjaan rumah: memastikan kepadatan pengunjung tidak membahayakan keselamatan, sampah tidak mencemari kawasan bendung, serta kebutuhan irigasi dan kondisi lingkungan tetap menjadi perhatian.

Pada akhirnya, Bedolan Pamarayan bukan hanya cerita tentang ribuan warga yang turun berburu ikan. Lebih dari itu, tradisi ini menjadi ujian tentang bagaimana warisan budaya dapat terus hidup tanpa mengorbankan keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan.

Sebab, tradisi yang besar bukan hanya tradisi yang mampu mendatangkan kerumunan, melainkan tradisi yang bisa terus diwariskan dengan aman, bersih, dan membawa manfaat bagi masyarakat. (Iwan H)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga