Breaking News
Beranda » NASIONAL
NASIONAL

Mohamad Roem hingga Adam Malik Mengakui Perjuangan A.R. Baswedan, Mengapa Prasangka Masih Bertahan?

A.R. Baswedan, tokoh pejuang nasional yang menegaskan Indonesia sebagai tanah airnya sejak 1934 dan menjadi teladan nasionalisme tanpa memandang garis keturunan.

 

Oleh: Lukman Hakiem, Peminat Sejarah

 

MEDIAGANAS.ID – Sejarah bangsa tidak hanya ditulis oleh mereka yang mengangkat senjata di medan perang. Sejarah juga dibangun oleh orang-orang yang berani mengambil keputusan besar, menembus sekat diskriminasi, dan menempatkan kepentingan Indonesia di atas kepentingan golongan.

Salah satu tokoh yang mewariskan teladan itu adalah A.R. Baswedan (1908–1986).

Pada 1934, sebelas tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, A.R. Baswedan telah menyuarakan gagasan yang melampaui zamannya.

Ia mengajak masyarakat keturunan Arab yang lahir, hidup, dan ingin mengakhiri hayatnya di Indonesia untuk mengakui Indonesia sebagai tanah airnya.

Gagasan itu bukan sekadar pernyataan identitas. Di tengah sistem kolonial Hindia Belanda yang membeda-bedakan penduduk berdasarkan golongan, sikap Baswedan merupakan pilihan politik dan moral yang berani.

Ia memilih berdiri bersama bangsa yang sedang diperjuangkan kemerdekaannya, meskipun pilihan tersebut berarti meninggalkan kenyamanan status yang mungkin dinikmati kelompoknya dalam tatanan kolonial.

Ketika Nasionalisme Dibuktikan dengan Keberanian

Mohamad Roem (1908–1983), salah seorang pejuang nasional, memberikan kesaksian penting mengenai pilihan A.R. Baswedan.

Dalam tulisannya pada peringatan ulang tahun Baswedan, Roem menegaskan bahwa keputusan tersebut hanya mungkin diambil oleh seseorang yang mampu memandang jauh ke depan.

Baswedan, menurut Roem, tidak memilih tempat yang saat itu memberikan keuntungan bagi golongannya. Ia justru memilih menyatukan diri dengan kaum pribumi yang direndahkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Di sinilah letak pentingnya sikap Baswedan. Nasionalisme tidak selalu lahir dari kesamaan asal-usul, tetapi tumbuh dari kesadaran untuk berbagi nasib, memperjuangkan kemerdekaan, dan menerima Indonesia sebagai rumah bersama.

Ketika politik kolonial berusaha memisahkan masyarakat ke dalam kotak-kotak sosial, Baswedan justru menawarkan jalan persatuan.

Ia memahami bahwa masa depan Indonesia tidak akan dibangun melalui persaingan antargolongan, melainkan melalui kesediaan untuk berdiri di sisi yang sama sebagai sebuah bangsa.

Pengakuan Para Tokoh Bangsa

Nasionalisme A.R. Baswedan bukan sekadar penilaian yang muncul belakangan. Sejumlah tokoh nasional telah memberikan pengakuan terhadap ketulusan dan pengabdiannya.

Mohamad Roem merekam keberanian Baswedan dalam menentukan sikap kebangsaan.

Sementara itu, Ki Hadjar Dewantara, sebagaimana dikutip Roem dari harian Merdeka edisi September 1956, menyampaikan pandangan yang menegaskan arti penting keikhlasan masyarakat keturunan Arab bagi Indonesia.

“Keikhlasan Saudara-saudara kita keturunan Arab tidak hanya menguntungkan diri mereka sendiri, namun menguntungkan negara kita pula,” demikian pernyataan Ki Hadjar yang dikutip dalam tulisan tersebut.

Pernyataan itu mengandung pesan yang tetap relevan hingga kini: kesediaan untuk menjadi bagian utuh dari Indonesia bukan hanya membawa manfaat bagi kelompok yang bersangkutan, tetapi juga memperkuat fondasi persatuan nasional.

Pengakuan lain datang dari Adam Malik, Menteri Luar Negeri Indonesia pada 1967–1977 dan Wakil Presiden pada 1978–1983.

Dalam tulisannya tertanggal 22 Juli 1972, Adam Malik menggambarkan Baswedan sebagai sosok yang mengabdikan seluruh hidupnya bagi perjuangan kemerdekaan.

Ia juga menyoroti kiprah Baswedan sebagai penulis dan penyair yang mengobarkan semangat perlawanan terhadap penjajahan, sekaligus sebagai seorang Muslim yang senantiasa berdoa kepada Allah Yang Maha Besar.

Kesaksian para tokoh tersebut memperlihatkan bahwa pengabdian Baswedan tidak berdiri pada satu bidang saja.

Ia menggunakan pemikiran, tulisan, keyakinan, dan tindakan untuk mendukung cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Jangan Menghakimi Sejarah dengan Prasangka

Lantas, masih pantaskah nasionalisme keluarga A.R. Baswedan dipertanyakan hanya karena latar belakang keturunan Arab?

Pertanyaan ini seharusnya dijawab dengan pengetahuan sejarah, bukan prasangka. Identitas leluhur seseorang tidak otomatis menentukan kesetiaan kebangsaannya.

Demikian pula, nasionalisme tidak seharusnya diukur dari nama keluarga, warna kulit, ataupun asal-usul etnis, melainkan dari sikap, kontribusi, dan komitmen terhadap tanah air.

A.R. Baswedan telah menunjukkan pilihan kebangsaannya jauh sebelum Indonesia merdeka. Ia tidak menunggu sampai kemerdekaan menjadi kenyataan untuk menyatakan Indonesia sebagai tanah air.

Ia mengambil sikap ketika perjuangan masih menghadapi tekanan kolonial dan masa depan kemerdekaan belum dapat dipastikan.

Keberanian semacam itu semestinya menjadi bahan refleksi bagi siapa pun yang masih mempersoalkan nasionalisme berdasarkan garis keturunan.

Mengkritik tokoh sejarah tentu diperbolehkan. Sejarah harus tetap terbuka terhadap penelitian, penelusuran dokumen, dan perdebatan akademis.

Namun, mempertanyakan kesetiaan seseorang tanpa memahami fakta perjuangannya hanya akan memperlihatkan betapa mudahnya prasangka mengalahkan pengetahuan.

Nasionalisme Adalah Komitmen, Bukan Garis Keturunan

Kisah A.R. Baswedan mengingatkan kita bahwa Indonesia dibangun oleh orang-orang dari beragam latar belakang yang memiliki cita-cita bersama.

Kemerdekaan bukan hadiah dari keseragaman, melainkan hasil perjuangan panjang yang melibatkan keberanian untuk melampaui perbedaan.

Karena itu, nasionalisme keluarga A.R. Baswedan semestinya dinilai melalui rekam jejak sejarah, bukan melalui prasangka terhadap identitas keturunan Arab.

Kesaksian Mohamad Roem, Ki Hadjar Dewantara, dan Adam Malik memberikan landasan penting untuk memahami bagaimana perjuangan Baswedan dipandang oleh para tokoh bangsa.

Mereka yang masih meragukan pengabdian Baswedan sepatutnya terlebih dahulu membuka kembali lembaran sejarah, membaca kesaksian para pelaku perjuangan, dan menimbang fakta secara jernih.

Sebab, sejarah tidak seharusnya dijadikan alat untuk memelihara kecurigaan. Sejarah justru harus menjadi cermin agar bangsa ini tidak mengulangi kesalahan yang sama: merendahkan seseorang karena asal-usulnya, sementara pengabdiannya bagi tanah air diabaikan.

A.R. Baswedan telah memberikan teladan bahwa menjadi Indonesia adalah sebuah pilihan yang diwujudkan melalui keberanian, pengabdian, dan kesediaan memperjuangkan kepentingan bersama.

Nasionalisme sejati tidak ditentukan oleh siapa leluhur kita, melainkan oleh apa yang kita lakukan untuk Indonesia.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga