13 Juta Ayam di Subang, Ancaman Tak Kasatmata Mengintai! Kang Akur Dorong Tikorda Bergerak Sebelum Wabah Datang

 

SUBANG, MEDIAGANAS.ID – Ketika jutaan ekor ayam menjadi kekuatan ekonomi, satu hal tidak boleh luput dari perhatian: ancaman penyakit yang bisa bergerak tanpa terlihat.

Kabupaten Subang kini memperkuat benteng pertahanan kesehatan daerah. Bukan hanya untuk melindungi manusia, tetapi juga hewan, lingkungan, pangan, hingga denyut perekonomian masyarakat.

Langkah itu ditandai dengan pembentukan Tim Koordinasi Daerah (Tikorda) Pencegahan dan Pengendalian Zoonosis dan Penyakit Infeksi Baru (PIB) Kabupaten Subang, Kamis (10/9/2026).

Pertemuan yang berlangsung di Aula Sawala Ageung, Hotel Laska Subang, tersebut dibuka Wakil Bupati Subang Agus Masykur Rosyadi, atau Kang Akur.

Pesannya tegas: jangan menunggu penyakit datang baru bergerak.

Pembentukan Tikorda diarahkan menjadi kekuatan koordinasi daerah untuk mempercepat deteksi dini, memperkuat kesiapsiagaan, meningkatkan surveilans, mengintegrasikan data, serta memastikan respons terhadap ancaman zoonosis dan penyakit infeksi baru berjalan cepat dan terpadu.

Program tersebut mendapat dukungan Pemerintah Amerika Serikat melalui U.S. Department of State (DoS) dalam program STRIDES-GHS (Strengthening Infectious Disease Detection System–Global Health Security), bekerja sama dengan Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

SUBANG DIPILIH KARENA PUNYA PERAN STRATEGIS

Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, Dr. drh. I Ketut Wirata, M.Si., mengatakan pembentukan Tikorda merupakan bagian dari upaya memperkuat kemampuan daerah dalam mendeteksi dan merespons ancaman penyakit.

“Program ini untuk memperkuat deteksi, meningkatkan kesiapsiagaan, koordinasi, dan respons terhadap penyakit zoonosis dan PIB agar lebih cepat dan terpadu,” ujarnya.

Subang menjadi salah satu daerah prioritas karena memiliki aktivitas perunggasan yang besar.

Namun, besarnya populasi dan mobilitas sektor tersebut juga menuntut sistem pengawasan yang semakin kuat.

Di sinilah pendekatan One Health menjadi penting.

Kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan hewan dan lingkungan. Ketiganya harus dijaga secara bersamaan karena perubahan atau gangguan pada satu sektor dapat berdampak pada sektor lainnya.

“Sejalan dengan pendekatan One Health karena kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling terkait. Kabupaten Subang merupakan satu dari enam kabupaten di tiga provinsi yang menjadi prioritas,” katanya.

13 JUTA AYAM, 1 PERINGATAN BESAR

Kang Akur melihat posisi Subang bukan sekadar sebagai daerah dengan industri perunggasan besar, tetapi juga sebagai salah satu simpul penting ketahanan pangan Jawa Barat dan nasional.

“Kabupaten Subang memiliki lanskap strategis dalam ketahanan pangan karena merupakan salah satu sentra industri unggas di Jawa Barat,” tegas Kang Akur.

Data yang disampaikannya menunjukkan populasi ayam broiler di Kabupaten Subang pada 2025 telah melampaui 13 juta ekor.

Skala sebesar itu membawa dua sisi sekaligus.

Di satu sisi, perunggasan menjadi penggerak ekonomi masyarakat dan sumber protein. Namun di sisi lain, semakin besar aktivitas biologis dan mobilitasnya, semakin penting pula sistem mitigasi risiko yang tangguh.

“Ayam broiler di Kabupaten Subang pada 2025 melampaui 13 juta ekor. Dengan skala usaha yang masif dan perputaran yang besar, tentu menopang ekonomi masyarakat dan menjadi sumber protein. Di balik itu semua ada kerentanan dan risiko biologis yang tidak boleh diabaikan,” ungkapnya.

Karena itu, kewaspadaan terhadap zoonosis dan penyakit infeksi baru tidak boleh dilakukan secara parsial.

Pemerintah daerah, sektor kesehatan, peternakan, lingkungan, hingga fasilitas pelayanan kesehatan harus memiliki satu gerak dan satu sistem kewaspadaan.

KANG AKUR: JANGAN SAMPAI EKONOMI LUMPUH

Pembangunan Kabupaten Subang yang semakin pesat juga membuat tantangan kesehatan semakin kompleks.

Mobilitas manusia meningkat. Aktivitas ekonomi tumbuh. Pergerakan hewan dan produk pangan semakin besar.

Dalam situasi seperti itu, ancaman penyakit bukan hanya persoalan medis.

Jika tidak ditangani sejak dini, dampaknya dapat merembet ke sektor pangan, perdagangan, peternakan, bahkan perekonomian daerah.

“Tantangan ini makin nyata seiring pesatnya pembangunan Kabupaten Subang. Jika ancaman zoonosis dan PIB tidak dikelola dengan mitigasi yang tangguh, dampaknya tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga bisa melumpuhkan perekonomian daerah,” tegas Kang Akur.

Atas dukungan program tersebut, Pemerintah Kabupaten Subang menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Amerika Serikat melalui DoS, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Kesehatan.

Kang Akur berharap kerja sama tersebut tidak berhenti pada forum dan pembentukan struktur koordinasi.

“Kami yakin Tikorda akan menjadi kekuatan besar untuk dimanfaatkan melalui dinas teknis daerah,” pungkasnya.

BUKAN SEKADAR TIM, TAPI BENTENG PERTAMA

Tikorda kini diharapkan menjadi salah satu benteng penting Kabupaten Subang dalam menghadapi ancaman penyakit.

Sebab, dalam menghadapi zoonosis dan penyakit infeksi baru, kecepatan membaca tanda-tanda awal bisa menjadi pembeda antara ancaman yang terkendali dan masalah yang membesar.

Pendekatan One Health pun menjadi fondasi: manusia sehat, hewan sehat, lingkungan sehat, pangan aman, dan ekonomi tetap bergerak.

Bagi Subang, membangun sistem kewaspadaan bukan berarti menunggu wabah.

Justru sebaliknya.

Kekuatan sebuah daerah diuji dari kemampuannya mengenali ancaman sebelum terlambat.

Pertemuan tersebut turut dihadiri jajaran kementerian terkait secara daring, kepala perangkat daerah, kepala puskesmas, serta sejumlah tamu undangan lainnya. (Deny Suhendar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *